Krisis Geopolitik Panaskan Minyak Dunia hingga USD111! Mengapa Harga Pertalite di Indonesia Tetap Stabil, Mungkinkah Bertahan Lama?

Krisis Geopolitik Panaskan Minyak Dunia hingga USD111! Mengapa Harga Pertalite di Indonesia Tetap Stabil, Mungkinkah Bertahan Lama?

55 NEWS – Pasar minyak mentah global kembali bergejolak hebat, dengan harga menembus level psikologis USD111 per barel pada perdagangan Senin (09/03/2026). Kenaikan signifikan ini, yang mencapai lebih dari 20 persen dalam sehari, dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak Juli 2022, memicu kekhawatiran global akan inflasi dan stabilitas ekonomi. Namun, di tengah badai harga minyak dunia, bagaimana nasib harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, khususnya Pertalite?

COLLABMEDIANET

Kontrak berjangka minyak Brent, patokan global, sempat melonjak tajam hingga USD18,35 atau 19,8 persen, menyentuh USD111,04 per barel. Meskipun sedikit mereda, pada pukul 23.14 GMT, harga masih bertengger di USD107,07 per barel, naik USD14,38 atau 15,5 persen. Lonjakan drastis ini mengindikasikan ketidakpastian pasokan yang serius akibat ketegangan di salah satu wilayah penghasil minyak terbesar dunia. Para analis ekonomi di 55tv.co.id memprediksi bahwa jika konflik berlanjut, tekanan terhadap harga minyak akan semakin besar.

Krisis Geopolitik Panaskan Minyak Dunia hingga USD111! Mengapa Harga Pertalite di Indonesia Tetap Stabil, Mungkinkah Bertahan Lama?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menariknya, di tengah hiruk-pikuk pasar komoditas global, harga BBM di Indonesia terpantau masih stabil sepanjang Maret 2026. Baik BBM bersubsidi seperti Pertalite maupun BBM nonsubsidi yang dijual oleh Pertamina, Shell, BP, dan Vivo, belum menunjukkan adanya penyesuaian harga. Kondisi ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi banyak pihak, mengingat korelasi kuat antara harga minyak mentah dunia dan harga BBM di dalam negeri.

Berdasarkan data resmi dari laman Pertamina, harga Pertalite saat ini masih berada di angka Rp10.000 per liter, sementara Pertamax dibanderol Rp12.300 per liter. Situasi serupa juga terlihat di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Shell, BP, dan Vivo, yang masih mempertahankan harga yang berlaku sejak awal Maret. Kestabilan ini kemungkinan besar didukung oleh kebijakan subsidi pemerintah untuk jenis BBM tertentu serta mekanisme peninjauan harga yang tidak bersifat instan. Pemerintah mungkin sedang berupaya menahan gejolak harga demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro.

Namun, para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa kestabilan harga BBM domestik di tengah lonjakan harga minyak dunia ini mungkin tidak akan bertahan lama jika tensi geopolitik terus memanas dan harga minyak tetap tinggi. Kebijakan subsidi memiliki batasnya, dan tekanan fiskal bisa menjadi sangat besar. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus memantau perkembangan situasi global dan kebijakan energi nasional yang akan datang. Potensi penyesuaian harga tetap menjadi bayang-bayang yang perlu diwaspadai jika kondisi pasar global tidak kunjung membaik.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar