55 NEWS – Sektor logistik nasional kembali menghadapi tantangan serius menjelang akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Lonjakan arus barang yang seharusnya menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, justru diwarnai oleh kemacetan parah di sejumlah pelabuhan utama. Kapal-kapal pengangkut komoditas kini harus antre hingga 5-6 hari hanya untuk bisa bersandar dan melakukan aktivitas bongkar muat, sebuah kondisi yang memicu kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas rantai pasok dan perekonomian.

Related Post
Situasi pelik ini menjadi sorotan tajam, terutama di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mengungkapkan bahwa proses sandar dan bongkar muat yang biasanya memakan waktu maksimal tiga hari, kini membengkak hingga dua kali lipat. "Saya melihat beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari," jelas Sebastian dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Menurut Sebastian, akar permasalahan utama terletak pada kondisi peralatan bongkar muat yang sudah uzur dan sering mengalami kerusakan. Ia menyoroti Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak sebagai contoh nyata. Peralatan tua ini secara drastis menurunkan produktivitas. Idealnya, Container Processing Area (CPA) mampu menangani 30-40 kontainer per jam, namun kini hanya sanggup memproses sekitar 10 kontainer per jam. "PT Pelindo seharusnya segera melakukan peremajaan alat di berbagai terminal karena beberapa alat sudah tua sehingga proses bongkar muat menjadi lebih lama," desaknya.
Dampak domino dari kemacetan ini sangat terasa. Keterlambatan bongkar muat secara langsung menyebabkan kelangkaan kontainer atau ‘shortage container’ di berbagai pelabuhan. Akibatnya, jadwal pengiriman barang yang telah ditetapkan oleh perusahaan forwarder menjadi molor, mengganggu operasional bisnis dan berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang signifikan.
Sebastian memberikan contoh konkret dari perusahaannya. "Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian," tuturnya. Ia menambahkan, jika biasanya perusahaannya bisa mendapatkan 20-40 kontainer per hari untuk mengirimkan sekitar 1.000 ton barang, kini mereka hanya mampu memperoleh 10 kontainer, yang berarti hanya sekitar 250 ton yang bisa segera terkirim. Kondisi ini bukan hanya menghambat distribusi, tetapi juga mengancam stabilitas pasokan bahan baku industri dan kebutuhan pokok masyarakat, demikian laporan yang dihimpun oleh 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar