55 NEWS – Indonesia dan Korea Selatan baru saja mengukuhkan langkah signifikan dalam peta jalan transisi energi global. Melalui sebuah nota kesepahaman strategis, kedua negara berkomitmen untuk menggenjot pengembangan bioenergi dan memperkuat rantai pasok biomassa berkelanjutan. Inisiatif ini bukan sekadar upaya lingkungan, melainkan sebuah manuver ekonomi cerdas yang diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 sekaligus membuka keran potensi ekonomi baru yang masif.

Related Post
Penandatanganan MoU antara PLN Energi Primer Indonesia (EPI) dan perusahaan konsultan terkemuka asal Korea Selatan, Greenery Inc., menjadi tonggak penting. Kesepakatan ini mencakup kerangka kerja sama komprehensif mulai dari pengembangan biomassa, riset teknis mendalam, peningkatan kualitas bahan bakar, hingga eksplorasi mekanisme karbon lintas negara. Ini adalah langkah konkret untuk mengintegrasikan solusi energi terbarukan dalam skala industri, khususnya untuk mendukung program cofiring Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah ada, sekaligus meminimalisir jejak karbon.

Direktur Bioenergi PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa biomassa memegang peranan krusial sebagai jembatan transisi energi. "Bioenergi, khususnya biomassa, bukan sekadar bahan bakar pengganti, tetapi bagian dari strategi besar transisi energi nasional. Oleh karena itu, pasokannya harus berkelanjutan, bernilai tambah, dan dikelola dengan tata kelola yang kuat," ujar Hokkop, seperti dikutip dari 55tv.co.id.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan Greenery Inc. akan mempercepat transfer teknologi dan inovasi dalam pengembangan produk biomassa bernilai ekonomi tinggi. Residua pertanian dan produk antara, menurutnya, tidak lagi boleh dipandang sebagai limbah. "Produk seperti biomassa dan turunannya harus dikapitalisasi menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya untuk energi, tetapi juga untuk pangan dan industri bioenergi. Ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan menciptakan multiplier effect ekonomi yang signifikan," jelasnya.
Dari perspektif riset dan inovasi, Leader of Research Group for Industrial Sustainability & Product Optimization BRIN, Dudi Iskandar, menekankan vitalnya kolaborasi multi-pihak. "Sebagai organisasi riset, tugas utama kami adalah menghasilkan inovasi yang bisa diimplementasikan secara nyata. Tanpa kolaborasi erat dengan PLN EPI, mitra internasional, dan universitas, riset hanya akan berhenti di laboratorium," ungkap Dudi.
Ia menjelaskan, kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi karbon rendah mutakhir, kajian ekonomi karbon yang komprehensif, serta sistem pengukuran emisi yang akurat dan terukur untuk mendukung formulasi kebijakan pemerintah. "Riset ini diharapkan tidak hanya membantu pemerintah dalam merumuskan strategi pengurangan emisi yang terukur, tetapi juga membuka peluang nilai tambah ekonomi yang signifikan dari pengelolaan karbon secara berkelanjutan," pungkasnya.
Kerja sama ini diproyeksikan akan membawa dampak ekonomi yang luas. Selain potensi penghematan devisa dari pengurangan impor bahan bakar fosil, pengembangan rantai pasok biomassa berkelanjutan akan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan kehutanan, mendorong investasi pada teknologi pengolahan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di pedesaan. Ini adalah langkah progresif menuju ekonomi sirkular yang mengoptimalkan setiap potensi sumber daya alam, mengubah "limbah" menjadi aset strategis dalam upaya mencapai kemandirian energi dan target iklim global. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan investasi strategis, kemitraan Indonesia-Korea ini berpotensi menjadi model sukses transisi energi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tangguh secara ekonomi.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar