55 NEWS – Jakarta – Sebuah langkah strategis yang berpotensi mengubah lanskap pengelolaan limbah dan energi nasional telah diambil. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, melalui lengan investasinya, Danantara Investment Management (DIM), secara resmi mengumumkan pembentukan entitas bisnis baru, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera). Perusahaan ini didedikasikan khusus untuk mengakselerasi dan mengelola proyek-proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) di Indonesia.

Related Post
Fadli Rahman, yang menjabat sebagai Lead of Waste-to-Energy sekaligus Director of Investment di Danantara Investment Management, menjelaskan peran krusial Denera. Menurutnya, Denera akan bertindak sebagai pemegang saham strategis dalam setiap fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang dikembangkan oleh para investor. "PT Daya Energi Bersih Nusantara ini merupakan entitas yang baru saja kami resmikan pada 1 April 2026, dengan mandat utama untuk fokus pada implementasi program PSEL," ungkap Fadli dalam sesi diskusi santai di Kantor Danantara, Kamis (9/4/2026).

Lebih lanjut, Fadli memaparkan model bisnis yang akan diterapkan. Setiap proyek WtE akan beroperasi di bawah skema konsorsium, di mana mayoritas kepemilikan saham sebesar 70 persen akan dipegang oleh investor, sementara Denera akan menguasai 30 persen sisanya. Ini menunjukkan komitmen Danantara dalam memastikan keberlanjutan dan kontrol strategis atas proyek. Estimasi investasi untuk setiap fasilitas pengolahan diperkirakan mencapai Rp2,5 hingga Rp2,8 triliun, angka yang bervariasi tergantung pada skala dan kapasitas operasional. "Denera tidak hanya menjadi pemegang saham, tetapi juga memikul tanggung jawab penuh atas operasional dan pengelolaan seluruh proyek PSEL yang berada di bawah naungan Danantara Investment Management," tegas Fadli.
Visi Denera melampaui sekadar pembangkit listrik. Fadli menekankan bahwa Denera akan mengimplementasikan pendekatan pengelolaan sampah yang terintegrasi secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Ini mencakup seluruh spektrum, mulai dari proses pengumpulan sampah yang efisien, inisiatif edukasi untuk mengubah perilaku masyarakat dalam membuang sampah, hingga puncaknya, produksi energi listrik. "Ini bukan hanya tentang teknologi, melainkan juga tentang bagaimana kita secara proaktif mengedukasi masyarakat untuk mengelola sampah dengan lebih baik. Perubahan budaya adalah kunci fundamental dalam menanggulangi persoalan sampah yang kompleks ini," pungkas Fadli, menyoroti dimensi sosial dari proyek ini.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar