Minyak Dunia ‘Mendidih’ Akibat Konflik Global, Tapi Harga Pertalite Tetap ‘Anteng’! Menteri ESDM Ungkap Strategi Pemerintah dan Peringatan Keras untuk Konsumen BBM Non-Subsidi!

Minyak Dunia 'Mendidih' Akibat Konflik Global, Tapi Harga Pertalite Tetap 'Anteng'! Menteri ESDM Ungkap Strategi Pemerintah dan Peringatan Keras untuk Konsumen BBM Non-Subsidi!

55 NEWS – Kabar gembira bagi jutaan pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di seluruh Indonesia. Di tengah gejolak harga minyak mentah global yang terus meroket akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara tegas memastikan bahwa harga Pertalite tidak akan mengalami kenaikan.

COLLABMEDIANET

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, secara lugas menyatakan bahwa stabilitas harga Pertalite akan tetap terjaga, terlepas dari seukuh mana pun lonjakan harga minyak dunia. "Jadi, kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau harga minyak dunia naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," tegas Bahlil di Jakarta, seperti dikutip dari 55tv.co.id, Rabu lalu. Pernyataan ini memberikan angin segar bagi daya beli masyarakat di tengah potensi tekanan inflasi.

Minyak Dunia 'Mendidih' Akibat Konflik Global, Tapi Harga Pertalite Tetap 'Anteng'! Menteri ESDM Ungkap Strategi Pemerintah dan Peringatan Keras untuk Konsumen BBM Non-Subsidi!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, Bahlil juga mengingatkan bahwa kondisi berbeda berlaku untuk jenis BBM non-subsidi, seperti Pertamax. Untuk kategori ini, penyesuaian harga akan tetap dilakukan secara berkala, mengikuti dinamika fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional. Ini berarti konsumen BBM non-subsidi harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga seiring dengan tren global.

Bahlil menjelaskan, harga minyak dunia saat ini telah mencapai kisaran USD 78-80 per barel. Angka ini jauh melampaui asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar USD 70 per barel. Selisih ini tentu menimbulkan implikasi signifikan terhadap keuangan negara.

Sebagai negara pengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, lonjakan harga ini secara inheren membebani APBN. Potensi pembengkakan subsidi energi yang harus ditanggung negara menjadi tantangan fiskal yang signifikan. Namun, di sisi lain, Indonesia juga diuntungkan dari sisi produksi minyak domestik yang mencapai sekitar 600 ribu barel per hari. Kenaikan harga minyak dunia turut mendongkrak pendapatan negara dari sektor ini.

Mengenai dampak bersihnya terhadap APBN, Bahlil menyatakan, "Nah, selisih ini yang sedang kami hitung." Ini mengindikasikan bahwa pemerintah sedang melakukan kalkulasi cermat untuk menyeimbangkan antara beban subsidi yang meningkat dan potensi penerimaan tambahan dari produksi minyak. Keputusan untuk menahan harga Pertalite ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global, meskipun dengan konsekuensi fiskal yang perlu dikelola dengan bijak.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar