Misteri Suku Bunga BI Terkuak! Mengapa Bank Sentral Bertahan di 4,75% Saat Inflasi Mencekik dan Rupiah Terancam?

Misteri Suku Bunga BI Terkuak! Mengapa Bank Sentral Bertahan di 4,75% Saat Inflasi Mencekik dan Rupiah Terancam?

55 NEWS – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung hari ini. Prediksi ini datang dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), yang melihat kombinasi tekanan inflasi dari sektor pangan dan pelemahan nilai tukar Rupiah sebagai faktor utama yang menahan bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga. Keputusan ini menjadi sorotan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang penuh tantangan.

COLLABMEDIANET

Riset LPEM UI yang diterima 55tv.co.id menyebutkan bahwa menjelang awal tahun 2026, makroekonomi Indonesia dihadapkan pada tantangan ganda: inflasi dari sisi pasokan dan meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong penguatan dolar AS. Data inflasi umum pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92% secara tahunan (yoy), meningkat dari 2,72% pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak April 2024. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan banjir di sejumlah wilayah Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, ditambah lonjakan permintaan selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Komoditas strategis seperti cabai merah, cabai rawit, dan beras menjadi penyumbang utama kenaikan harga yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Misteri Suku Bunga BI Terkuak! Mengapa Bank Sentral Bertahan di 4,75% Saat Inflasi Mencekik dan Rupiah Terancam?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Selain pangan, tekanan inflasi juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang terpengaruh oleh kenaikan harga emas dunia. Sepanjang tahun 2025, perhiasan emas tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar inflasi. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global yang belum menentu.

Dari sisi eksternal, meskipun aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia sejak pertengahan Desember 2025, Rupiah tetap menunjukkan pelemahan. Penguatan dolar AS dipicu oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga lebih lama dari perkiraan. Ditambah lagi, meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik global turut memperparah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, yang masih berlanjut.

Aliran dana asing ini tercatat masuk terutama ke instrumen jangka pendek, seperti surat berharga Bank Indonesia dan obligasi pemerintah tenor pendek. Sementara itu, minat terhadap obligasi jangka panjang relatif terbatas. Investor cenderung lebih berhati-hati terhadap risiko fiskal domestik, mengingat defisit anggaran 2025 yang mendekati batas atas yang diizinkan undang-undang. Kondisi ini menunjukkan dilema yang kompleks bagi BI dalam menjaga stabilitas harga dan nilai tukar di tengah tekanan inflasi domestik dan gejolak global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar