55 NEWS – Kesepakatan AS-China untuk memangkas tarif dagang disambut gembira pasar global. Namun, di balik euforia penurunan ketegangan perang dagang, tersimpan isu sensitif yang berpotensi memicu konflik baru: perebutan kendali atas logam tanah jarang (rare earth). Komoditas strategis ini, krusial bagi industri teknologi tinggi, menjadi titik rawan dalam hubungan kedua negara adidaya tersebut.

Related Post
Dominasi China yang nyaris mutlak dalam pasar global rare earth menjadi perhatian serius AS. Pasalnya, rare earth merupakan bahan baku vital untuk berbagai produk teknologi canggih, mulai dari baterai kendaraan listrik dan smartphone hingga peralatan militer. Keinginan AS untuk mengamankan pasokan yang stabil berbenturan dengan ambisi China yang menjadikan rare earth sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan.

Bagi AS, akses terhadap rare earth bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga keamanan nasional. Ketidakpastian pasokan dari China dinilai sebagai ancaman yang tak bisa diabaikan. Seorang peneliti senior di Atlantic Council, Dexter Roberts, bahkan memprediksi bahwa China tak akan mudah melepaskan kendali atas komoditas strategis ini. "Setelah mereka menghukum AS dengan kendali ekspor rare earth, mereka (China) tidak akan begitu saja melepaskan senjata ekonomi ini," ujar Roberts seperti dikutip dari 55tv.co.id.
Laporan Bloomberg menyebutkan kesepakatan terbaru memungkinkan AS memperoleh izin ekspor rare earth dari China dengan lebih mudah. Namun, pencabutan pembatasan secara total masih jauh dari kenyataan, menurut sumber industri di China. Langkah China memasukkan tujuh jenis tanah jarang dan produk terkait ke dalam daftar kontrol ekspor pada April lalu sebagai balasan atas tarif AS, semakin memperkuat dugaan tersebut. Eksportir AS kini harus mengajukan izin khusus sebelum menjual ke luar China.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun perang tarif mereda, pertarungan ekonomi dan geopolitik antara AS dan China masih jauh dari selesai. Perebutan kendali atas rare earth menjadi babak baru dalam persaingan kedua negara, yang berpotensi memicu ketegangan baru di masa mendatang. Perkembangan selanjutnya patut dipantau dengan cermat, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap perekonomian global dan lanskap geopolitik.
Editor: Akbar Soaks









Tinggalkan komentar