PREDIKSI MENGEJUTKAN! Harga Emas Diproyeksi Melonjak Hingga Rp2,8 Juta per Gram Minggu Depan, Apa Saja Pemicu Utamanya?

PREDIKSI MENGEJUTKAN! Harga Emas Diproyeksi Melonjak Hingga Rp2,8 Juta per Gram Minggu Depan, Apa Saja Pemicu Utamanya?

55 NEWS – Jakarta – Pasar komoditas global bersiap menghadapi gejolak signifikan. Harga emas, baik di kancah internasional maupun pasar domestik, diperkirakan akan melambung tinggi dalam waktu dekat. Kombinasi ketegangan geopolitik yang kian memanas dan eskalasi perang dagang global menjadi katalis utama yang mendorong para investor untuk memburu aset safe haven, memicu ekspektasi kenaikan harga yang substansial.

COLLABMEDIANET

Ibrahim Assuaibi, seorang analis terkemuka di bidang pasar uang dan komoditas, memberikan proyeksi yang mencengangkan. Menurutnya, harga emas dunia yang baru saja menutup perdagangan di level USD4.595 per troy ounce, memiliki potensi besar untuk menembus rekor baru. Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi bahwa resistance kedua akan menguat hingga USD4.706 per troy ounce. Kenaikan ini diproyeksikan akan diikuti oleh harga logam mulia di pasar domestik, yang berpotensi menyentuh angka fantastis Rp2.820.000 per gram. "Ingat, ada kemungkinan besar harga logam mulia itu mencapai Rp2.820.000," tegas Ibrahim dalam analisisnya yang diterima 55tv.co.id pada Minggu (18/1/2026).

PREDIKSI MENGEJUTKAN! Harga Emas Diproyeksi Melonjak Hingga Rp2,8 Juta per Gram Minggu Depan, Apa Saja Pemicu Utamanya?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ibrahim merinci lima pilar fundamental yang akan menjadi motor penggerak pasar emas dalam pekan mendatang. Pertama, kebijakan proteksionisme perdagangan kian meruncing; Uni Eropa memberlakukan bea masuk anti-dumping terhadap alumina dari Tiongkok, sementara Amerika Serikat mengancam tarif 20 persen terhadap produk Eropa terkait sengketa Greenland. Langkah-langkah ini secara kolektif menyuntikkan ketidakpastian signifikan ke dalam lanskap pasar global.

Kedua, eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai penjuru dunia. Iran berada dalam status siaga perang, serangan balasan Ukraina ke wilayah Rusia terus berlanjut, dan kehadiran kapal induk AS Abraham Lincoln di Timur Tengah semakin memanaskan suhu politik regional. Ketiga, fenomena pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral. Institusi keuangan di Tiongkok, India, dan negara-negara ASEAN, secara agresif mengakumulasi logam mulia sebagai cadangan strategis, mengindikasikan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global.

Keempat, dinamika seputar Federal Reserve dan dolar AS. Pemanggilan Jerome Powell oleh otoritas hukum AS, ditambah spekulasi mengenai potensi penurunan suku bunga menjelang akhir masa jabatannya, menciptakan volatilitas pada pergerakan dolar. Kelima, tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Depresiasi mata uang domestik secara berkelanjutan turut berkontribusi pada peningkatan biaya pembelian logam mulia di pasar Indonesia, memperparah efek kenaikan harga global.

Kendati demikian, Ibrahim juga mengingatkan para investor untuk tetap waspada. Ia telah memetakan area support krusial sebagai strategi mitigasi, mengantisipasi potensi koreksi teknis yang mungkin terjadi di tengah tren penguatan harga.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar