55 NEWS – Inovasi gemilang hadir dari Kutai Timur, Kalimantan Timur. Lahan pascatambang yang dulunya terbengkalai, kini menjelma menjadi sentra produksi telur ayam, menjawab tantangan ketahanan pangan nasional. Program kolaboratif antara warga, pemerintah daerah, dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) ini patut diapresiasi sebagai solusi cerdas mengatasi ketergantungan pasokan telur dari luar daerah.

Related Post
Ketergantungan Kutai Timur terhadap pasokan telur dari daerah lain seperti Samarinda dan Bontang selama ini mencapai 70%. Kondisi ini tak hanya berdampak pada harga telur yang tinggi, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi lokal. Melihat potensi yang besar, Asosiasi Peternak Ayam Petelur Sangatta (APAPS), Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), dan KPC berkolaborasi mengembangkan budidaya ayam pullet (ayam betina muda siap bertelur) di kawasan Peternakan Sapi Terpadu (Pesat), Sangatta.

General Manager External Affairs and Sustainable Development Division KPC, Wawan Setiawan, menjelaskan bahwa program ini tak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada aspek ekonomi keluarga. "Potensi swasembada telur di Sangatta sangat besar. Budidaya ayam pullet ini tak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memenuhi kebutuhan protein masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (8/5/2025).
Kebutuhan telur di Kutai Timur mencapai 80.000 butir per bulan, sementara produksi lokal baru mampu memenuhi 30% kebutuhan tersebut. Program budidaya ayam pullet ini diharapkan mampu menutupi kekurangan tersebut dan menciptakan rantai produksi telur yang mandiri dan berkelanjutan. KPC pun berperan aktif dengan menyediakan infrastruktur pascatambang untuk pembangunan kandang ayam kolektif, serta memberikan pelatihan dan dukungan teknis kepada para peternak, termasuk pengembangan mini feedmill untuk menekan biaya produksi pakan.
Sistem distribusi terintegrasi menjadi kunci keberhasilan program ini. Wawan Setiawan optimis, "Jika program ini konsisten, ini akan menjadi transformasi pangan berbasis desa yang inspiratif bagi wilayah lain di Indonesia." Inisiatif ini membuktikan bahwa lahan pascatambang dapat dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, sebuah model yang layak ditiru di berbagai daerah di Indonesia.
Editor: Akbar Soaks









Tinggalkan komentar