55 NEWS – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa wacana redenominasi rupiah tidak akan berdampak pada harga barang maupun nilai tukar riil mata uang Garuda. Pernyataan ini disampaikan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat terkait potensi dampak negatif dari kebijakan tersebut.

Related Post
Perry dengan tegas membedakan redenominasi dengan sanering, sebuah kebijakan yang pernah diterapkan di masa lalu dengan tujuan memotong nilai riil mata uang dan menurunkan daya beli masyarakat. "Redenominasi itu bukan sanering, bukan pemotongan nilai," ujarnya di Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa redenominasi baru dapat diimplementasikan setelah pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyelesaikan pembahasan Undang-Undang tentang Perubahan Harga Rupiah. Setelah payung hukum tersebut disahkan, proses transisi dari mata uang lama ke mata uang baru akan berlangsung secara paralel selama kurang lebih lima hingga enam tahun.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Perry mencontohkan bahwa harga barang tidak akan mengalami perubahan meskipun jumlah digit pada rupiah disederhanakan. "Misalnya, saat ini kita membeli kopi seharga Rp25.000, nantinya dengan uang baru, harganya tetap Rp25. Proses ini akan berjalan secara paralel," jelas Perry. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya lonjakan harga atau penurunan daya beli akibat redenominasi. Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi selama proses transisi ini berlangsung. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak akurat terkait redenominasi. Informasi resmi dan terpercaya akan terus disosialisasikan oleh Bank Indonesia dan pemerintah.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar