Rupiah Dituding Hancur Akibat Perang? Menkeu Purbaya Buka Suara, Ungkap Dalang di Balik Isu Miring!

Rupiah Dituding Hancur Akibat Perang? Menkeu Purbaya Buka Suara, Ungkap Dalang di Balik Isu Miring!

55 NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas menepis kekhawatiran publik terkait anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang diisukan sebagai dampak perang AS-Iran. Meskipun sempat menyentuh level Rp17.000 per USD dan kini stabil di Rp16.958 per USD pada penutupan perdagangan Jumat lalu, Purbaya menegaskan bahwa fundamental mata uang domestik tetap kokoh dan memiliki daya tahan yang sangat solid terhadap guncangan global.

COLLABMEDIANET

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Purbaya memaparkan data historis yang menunjukkan ketahanan Rupiah. Menurutnya, setiap kali terjadi konflik bersenjata global, pelemahan Rupiah tergolong sangat minim, jauh dari skenario dramatis yang digembar-gemborkan beberapa pihak. Data historis menunjukkan bahwa depresiasi Rupiah saat terjadi perang hanya sekitar 0,3 persen, sebuah angka yang membuktikan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.

Rupiah Dituding Hancur Akibat Perang? Menkeu Purbaya Buka Suara, Ungkap Dalang di Balik Isu Miring!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Purbaya secara blak-blakan menyoroti pihak-pihak yang menyebarkan sentimen negatif. "Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang Rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang Rupiah hanya terdepresi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahanan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin," ujar Purbaya, seperti dikutip dari 55tv.co.id pada Minggu (15/3/2026). Pernyataan ini mengisyaratkan adanya agenda tersembunyi di balik kritik terhadap kinerja Rupiah.

Menteri Keuangan melanjutkan penjelasannya dengan merujuk pada instrumen risiko yang lebih konkret dan dapat diukur. Ia mencontohkan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun yang tetap menunjukkan stabilitas, sebuah indikator penting kepercayaan pasar terhadap kemampuan Indonesia membayar utangnya. Selain itu, selisih (spread) imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury juga hanya bergerak tipis, dari 240 basis poin pada Januari 2025 menjadi 243 basis poin saat ini. Kenaikan yang sangat terbatas ini, hanya 0,3 basis poin, mengindikasikan bahwa investor asing masih menaruh kepercayaan besar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Purbaya menyayangkan adanya perbedaan persepsi antara investor asing yang rasional dan beberapa pengamat domestik yang cenderung pesimis. "Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya," imbuhnya, mengisyaratkan bahwa kritik pedas terhadap Rupiah justru datang dari dalam negeri, bukan dari pasar global yang lebih objektif. Hal ini menjadi sorotan penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas narasi ekonomi di tengah gejolak global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar