Rute Laut Tersumbat, Harga Barang Meroket? Industri Logistik Ungkap Skenario Terburuk Akibat Gejolak Timur Tengah!

Rute Laut Tersumbat, Harga Barang Meroket? Industri Logistik Ungkap Skenario Terburuk Akibat Gejolak Timur Tengah!

55 NEWS – Guncangan geopolitik di jantung Timur Tengah, imbas dari eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini memicu alarm merah di sektor logistik global. Jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan Laut Merah yang menjadi urat nadi perdagangan dunia, menghadapi gangguan serius, berujung pada lonjakan biaya angkut dan molornya jadwal pengiriman barang.

COLLABMEDIANET

Reef Man, CEO HMS Group, menegaskan bahwa situasi yang memanas ini bukan sekadar riak geopolitik biasa, melainkan ancaman nyata terhadap kelangsungan bisnis (survival business) bagi banyak pelaku usaha. Sejak eskalasi konflik memuncak pada akhir pekan lalu, perusahaan logistik terpaksa mengalihkan rute kapal kargo melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Langkah ini, menurut Reef, memperpanjang waktu transit hingga lebih dari dua pekan. "Kondisi yang sangat tidak kondusif ini bahkan membuat hampir seluruh pelayaran menghentikan layanan ekspor maupun impor ke dan dari kawasan Timur Tengah," ujar Reef Man di Jakarta, baru-baru ini.

Rute Laut Tersumbat, Harga Barang Meroket? Industri Logistik Ungkap Skenario Terburuk Akibat Gejolak Timur Tengah!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Reef menjelaskan, Selat Hormuz adalah arteri utama perdagangan internasional, menjadi jalur krusial bagi lebih dari seperempat pasokan minyak global. Pemblokiran atau gangguan di jalur ini secara otomatis memutus akses pasar ke sejumlah negara di Timur Tengah, menciptakan efek domino pada rantai pasok. Untuk memastikan arus barang tetap bergerak di tengah ketidakpastian, HMS Group telah menyiapkan skenario mitigasi terburuk, termasuk penjajakan skema alternatif.

Salah satu opsi yang dikembangkan adalah metode Sea-Air (Laut-Udara). "Kami berupaya keras menemukan solusi yang paling adaptif dengan kebutuhan spesifik pelanggan," ungkap Reef. Ia mencontohkan, pengiriman barang bisa dilakukan via laut menuju Jeddah, Arab Saudi, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan armada truk, atau diintegrasikan dengan pengiriman udara untuk kecepatan optimal.

Di tengah pusaran ketidakpastian global, HMS Group tidak tinggal diam. Perusahaan ini mengambil langkah proaktif dengan melakukan ekspansi signifikan ke Vietnam. Langkah ini bukan hanya bagian dari mitigasi risiko, melainkan juga strategi untuk mengoptimalkan potensi pasar di Asia Tenggara. Setelah sukses membangun hub logistik di Singapura, HMS Group kini melirik Vietnam sebagai pusat strategis baru, mengingat pesatnya pertumbuhan sektor manufaktur di negara tersebut dan tren relokasi investasi global ke sana.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar