55 NEWS – JAKARTA – Pasar keuangan global bersiap menghadapi gejolak signifikan pekan depan, dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berada dalam tekanan kuat, bahkan diproyeksikan bertahan di atas level psikologis Rp17.000. Analisis ini disampaikan oleh pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, yang menyoroti fluktuasi tajam dan ketergantungan harga komoditas pada eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Related Post
Ibrahim Assuaibi secara spesifik menggarisbawahi potensi pelebaran rentang perdagangan pada Indeks Dolar AS (DXY), indikator kekuatan greenback. Berdasarkan analisis teknikalnya, DXY memiliki level dukungan (support) krusial di 97,00 dan tingkat resisten di 100,90. "Dalam perdagangan satu pekan ke depan, kemungkinan besar rentang ini akan melebar, berpotensi bergerak antara 97,00 hingga 101,00," jelas Ibrahim, seperti dikutip oleh 55tv.co.id.

Sejalan dengan proyeksi penguatan Dolar AS, mata uang Garuda diprediksi akan terus berada di bawah tekanan signifikan. Ibrahim memperkirakan, "Pelemahan mata uang Rupiah kemungkinan masih akan bertahan di atas level Rp17.000 per Dolar AS untuk pekan depan," tegasnya.
Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada dinamika perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, yang difasilitasi oleh Pakistan. Ibrahim memaparkan dua skenario krusial yang akan memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap harga minyak global serta laju inflasi:
-
Skenario Optimis: Jika kesepakatan jeda perang selama dua minggu berhasil dicapai, harga minyak mentah diprediksi akan mengalami penurunan. Kondisi ini secara otomatis akan meredam tekanan inflasi global, membuka peluang bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk mempertimbangkan kebijakan penurunan suku bunga. Sentimen positif ini, pada gilirannya, akan menjadi angin segar bagi harga emas sebagai aset safe haven.
-
Skenario Pesimis: Sebaliknya, jika negosiasi menemui jalan buntu dan gagal, potensi perang terbuka di kawasan vital seperti Terusan Suez dan ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan emas secara bersamaan ke level yang lebih tinggi. Situasi ini tentu akan memperparah ketidakpastian ekonomi global.
Ketidakpastian geopolitik ini menjadi faktor dominan yang akan menentukan arah pergerakan pasar keuangan dan komoditas dalam waktu dekat, menuntut kewaspadaan tinggi dari para investor dan pelaku bisnis.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar