55 NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyuarakan keprihatinannya yang mendalam terkait kebijakan impor kapal bekas. Dalam sebuah forum diskusi strategis, ia secara terang-terangan menyoroti bagaimana praktik ini justru menjadi penghambat utama bagi kemajuan industri perkapalan nasional, sebuah ironi pahit bagi negara maritim terbesar di dunia. Pernyataan Purbaya ini mengemuka di tengah upaya pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor manufaktur.

Related Post
Purbaya menegaskan, penguatan sektor manufaktur, termasuk industri galangan kapal, adalah pilar krusial untuk memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. "Saya baru tahu, orang kita ini jago, punya kapabilitas tinggi, cuma sayangnya tidak diberikan kesempatan oleh kita sendiri," ungkap Purbaya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kadin Indonesia di Jakarta, Selasa (10/2/2026). Sentilan ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara potensi domestik dengan arah kebijakan yang diterapkan.

Menurut analisis Purbaya, kelemahan fundamental industri domestik bukan terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) atau inovasi. Sebaliknya, pangkal masalahnya adalah minimnya volume pesanan atau order akibat kebijakan yang masih membuka keran lebar bagi masuknya kapal bekas dari mancanegara. Situasi ini, menurutnya, mengakibatkan para ahli perkapalan lokal yang mumpuni kehilangan panggung dan kesempatan berkarya di tanah air sendiri, sebuah fenomena yang diulas mendalam oleh 55tv.co.id.
"Jadi, ironisnya, orang-orang kita yang mampu dan memiliki keahlian tinggi itu tidak mendapatkan order yang semestinya karena kebijakan kita sendiri. Meskipun kita adalah negara kepulauan dengan empat laut yang membentang luas, status sebagai negara maritim justru tidak menjamin kemandirian. Kapal-kapal vital masih harus dibeli dari luar, sementara talenta-talenta ahli kita tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi maksimal," pungkas Purbaya, menyerukan evaluasi komprehensif terhadap arah kebijakan industri maritim nasional yang seharusnya lebih memprioritaskan daya saing dan kemandirian lokal.
Editor: Akbar soaks







Tinggalkan komentar