55 NEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah diproyeksikan menjadi katalisator krusial bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, dengan target ambisius mencapai 8 persen. Penilaian strategis ini disampaikan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie. Menurutnya, MBG tidak hanya merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di masa depan, tetapi juga berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi riil dalam kurun waktu dekat.

Related Post
"Target penyediaan makanan untuk 82 juta anak ini sangat fundamental dan strategis untuk masa depan bangsa. Kita mendambakan lebih banyak insinyur, dokter, guru, serta atlet yang tangguh dan bergizi," ujar Anindya dalam sebuah kesempatan di Menara Kadin, Jakarta, pada Rabu (14/1/2026), seperti dilansir oleh 55tv.co.id. Ia menambahkan, "Namun, sama pentingnya, kita juga harus memastikan bahwa roda perekonomian benar-benar berputar saat ini. Perekonomian kita saat ini tumbuh di kisaran 5 persen, dengan harapan dapat menyentuh 5,4 hingga 5,5 persen tahun ini."

Anindya menggarisbawahi potensi besar MBG dalam menciptakan lapangan kerja massal melalui implementasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan asumsi konservatif bahwa setiap dapur yang beroperasi menyerap rata-rata 50 tenaga kerja dan berfungsi selama 30 minggu dalam setahun, maka program ini berpotensi menggenerasi hingga 1,5 juta lapangan kerja baru di seluruh Indonesia.
"Ini sejalan dengan pandangan Bapak Menko Perekonomian, yang menyebutkan bahwa setiap 400 ribu lapangan kerja dapat berkontribusi 1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, 1,5 juta lapangan kerja baru berpotensi menyumbang sekitar 3,5 persen. Oleh karena itu, inisiatif Presiden dan Bapak Menko untuk mencapai target 8 persen ini memang menjadikan MBG sebagai salah satu instrumen utamanya," jelas Anindya, menganalisis dampak makroekonomi dari program tersebut.
Lebih lanjut, dampak MBG tidak hanya terbatas pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga diprediksi akan memicu hilirisasi sektor agrikultur secara masif. Kebutuhan pangan untuk 82 juta porsi makanan setiap hari sekolah akan menciptakan permintaan kolosal terhadap berbagai komoditas pertanian dan peternakan domestik, seperti telur, daging ayam, sayuran segar, ikan, dan produk pangan lainnya.
"Apabila kita menyediakan 82 juta porsi makanan setiap hari sekolah, kebutuhan bahan bakunya akan sangat besar. Paling tidak 82 juta butir telur jika menunya telur, 82 juta potong paha ayam, belum lagi sayur-mayur dan komoditas lainnya. Ini akan mendorong terjadinya hilirisasi yang selama ini lebih identik dengan sektor pertambangan, kini akan merambah ke sektor agrikultur," pungkas Anindya, menyoroti pergeseran paradigma hilirisasi menuju sektor pangan yang berkelanjutan.
Editor: Akbar soaks







Tinggalkan komentar