55 NEWS – Dua urat nadi vital perekonomian di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, kini kembali berdenyut kencang. PT Hutama Karya (Persero) dengan sigap menuntaskan pembangunan dua Jembatan Bailey krusial, yakni Jembatan Mengkudu sepanjang 36 meter dan Jembatan Penanggalan sepanjang 48 meter. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung akses Jalan Lintas Tengah ruas Kutacane–Blangkejeren. Penyelesaian proyek strategis ini tidak hanya memulihkan mobilitas, tetapi juga menjanjikan stabilitas distribusi logistik dan kebutuhan dasar bagi masyarakat setempat.

Related Post
Jembatan Mengkudu berlokasi strategis di Desa Katimaju, Kecamatan Darul Hasanah. Sementara itu, Jembatan Penanggalan berdiri kokoh di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe. Kedua infrastruktur ini bukan sekadar penghubung fisik, melainkan arteri utama yang menopang pergerakan ekonomi dan sosial di koridor Lintas Tengah, memastikan roda kehidupan warga dan pasokan logistik tetap berputar.

Kecepatan pengerjaan menjadi sorotan utama. Jembatan Mengkudu telah dibuka untuk lalu lintas sejak Selasa, 23 Desember 2025, setelah rampung dalam waktu 15 hari kerja. Tak kalah cepat, Jembatan Penanggalan menyusul pada Minggu, 28 Desember 2025, dengan durasi pengerjaan yang impresif, hanya 6 hari. Efisiensi ini menunjukkan komitmen Hutama Karya dalam merespons kebutuhan mendesak pasca-bencana, meminimalkan disrupsi ekonomi yang lebih panjang.
Mardiansyah, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, menegaskan bahwa proyek ini merupakan pilar penting dalam strategi pemulihan akses darat pasca-bencana di wilayah Aceh. "Dengan berfungsinya kembali ruas Lintas Tengah di kedua titik krusial ini, kami berharap mobilitas warga dan, yang tak kalah penting, distribusi logistik dapat kembali berdenyut lancar. Ini fundamental untuk menopang ekonomi lokal selama masa tanggap darurat hingga fase transisi pemulihan," jelas Mardiansyah, seperti dikutip dari 55tv.co.id pada Kamis (1/1/2026).
Secara detail teknis, Jembatan Mengkudu dirancang dengan panjang 36 meter, menawarkan lebar efektif 3,7 meter, dan tinggi rangka baja (truss) 2,4 meter. Kapasitas beban maksimumnya mencapai 40 ton, sebuah spesifikasi yang memastikan jembatan ini mampu menopang lalu lintas kendaraan berat, termasuk truk-truk pengangkut komoditas. Ini krusial untuk menjaga rantai pasok tetap efisien dan menekan biaya logistik yang kerap melonjak saat akses terhambat. Penyelesaian dua jembatan Bailey ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol kebangkitan dan resiliensi ekonomi Aceh Tenggara dalam menghadapi tantangan.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar