TERBONGKAR! Strategi Cerdas Pemerintah ‘Pecah’ Arus Mudik Lebaran 2026: Bukan Sekadar Libur, Ini Dampak FWA Terhadap Efisiensi Ekonomi Nasional!

TERBONGKAR! Strategi Cerdas Pemerintah 'Pecah' Arus Mudik Lebaran 2026: Bukan Sekadar Libur, Ini Dampak FWA Terhadap Efisiensi Ekonomi Nasional!

55 NEWS – Jakarta – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi secara tegas menyatakan dukungannya terhadap implementasi kebijakan Work From Anywhere (WFA) atau Flexible Working Arrangement (FWA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja sektor swasta selama periode krusial arus mudik dan balik Lebaran 2026. Langkah strategis ini bukan sekadar upaya meredakan kemacetan, melainkan sebuah inisiatif makro untuk mengoptimalkan pergerakan masyarakat, menjamin keamanan, kenyamanan, serta efisiensi logistik nasional.

COLLABMEDIANET

"Penerapan FWA diharapkan dapat mendistribusikan kepadatan lalu lintas pada periode puncak, sehingga beban kerja petugas di lapangan dapat lebih terkontrol. Ini krusial untuk memastikan pengaturan lalu lintas berjalan optimal dan meminimalisir potensi kerugian ekonomi akibat kemacetan yang masif," jelas Menhub Dudy pada Selasa (16/2/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id.

TERBONGKAR! Strategi Cerdas Pemerintah 'Pecah' Arus Mudik Lebaran 2026: Bukan Sekadar Libur, Ini Dampak FWA Terhadap Efisiensi Ekonomi Nasional!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pemerintah telah menyepakati jadwal penerapan FWA untuk ASN dan pekerja swasta pada tanggal 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026. Data dari Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap FWA sangat positif, terutama dalam menekan potensi lonjakan pergerakan pada hari-hari puncak mudik seperti H-5 dan H-3.

Dengan adanya FWA, pola pergerakan masyarakat pada arus mudik cenderung lebih terdistribusi ke hari-hari sebelum H-3 dan H-5, yakni antara H-6 hingga H-8. Demikian pula pada arus balik, FWA dinilai efektif meredam puncak kepadatan yang biasanya terjadi pada H+4 hingga H+6 setelah Lebaran. Pergeseran ini secara signifikan mengurangi konsentrasi massa pada satu waktu, menyebarkan beban infrastruktur dan layanan publik secara lebih merata. Ini berarti penekanan biaya operasional dan peningkatan turnaround time bagi sektor logistik dan transportasi.

Menhub Dudy lebih lanjut memaparkan, hasil Survei Angkutan Lebaran 2026 memproyeksikan sekitar 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan. Angka ini sedikit menurun dibandingkan survei tahun 2025 yang mencatat potensi 146 juta orang, dengan realisasi mencapai 154 juta orang. "Meskipun survei tahun ini menunjukkan sedikit penurunan sekitar 1,7 persen, pemerintah tidak akan lengah. Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan selisih signifikan antara proyeksi survei dan realisasi di lapangan, sehingga kewaspadaan penuh tetap menjadi prioritas utama dalam persiapan angkutan Lebaran," tegasnya.

Dari perspektif ekonomi, kebijakan FWA ini dapat diartikan sebagai investasi dalam efisiensi mobilitas dan produktivitas nasional. Dengan mengurangi kemacetan, waktu tempuh dapat dipersingkat, biaya operasional transportasi berkurang, dan rantai pasok barang esensial selama Lebaran dapat berjalan lebih lancar. Ini berpotensi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, yang pada akhirnya mendukung daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pasca-Lebaran. FWA bukan hanya tentang kenyamanan individu, tetapi juga tentang menjaga denyut nadi ekonomi tetap stabil di tengah lonjakan mobilitas tahunan.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar