55 NEWS – Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini mengungkapkan potensi ekonomi yang luar biasa dari hilirisasi tiga komoditas strategis: kelapa, gambir, dan minyak kelapa sawit mentah (CPO). Jika diolah secara maksimal di dalam negeri, ketiga komoditas ini diperkirakan mampu menyumbang nilai tambah fantastis hingga Rp15.000 triliun bagi perekonomian Indonesia. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan kekayaan alam demi kesejahteraan rakyat, sebuah langkah fundamental dalam mewujudkan kemandirian ekonomi.

Related Post
Amran menekankan pentingnya menghentikan ekspor bahan mentah yang selama ini merugikan negara. "Seluruh kekayaan kita harus dihilirisasi. Jangan ekspor mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat," tegasnya saat memberikan arahan di Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan, Kamis (26/2/2026). Filosofi ini menjadi landasan utama dalam strategi pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam, mengubah Indonesia dari pengekspor bahan baku menjadi pemain kunci dalam rantai nilai global.

Khusus untuk kelapa, Amran menyoroti pergeseran tren konsumsi pangan global yang membuka peluang pasar yang sangat besar. Ia menyebutkan, Tiongkok kini mulai beralih dari susu hewani, seperti susu sapi dan kambing, ke susu nabati, khususnya susu kelapa atau coconut milk. Fenomena ini menciptakan permintaan masif yang bisa dimanfaatkan Indonesia. "Ini coconut milk. Ada pergeseran konsumsi pangan di China, dari susu sapi dan kambing bergeser ke susu berbasis kelapa. Total potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun," jelasnya, menggarisbawahi bagaimana inovasi produk turunan dapat melipatgandakan nilai ekonomi secara signifikan.
Komoditas gambir juga tak luput dari perhatian serius pemerintah. Indonesia, sebagai produsen utama yang menguasai sekitar 80 persen bahan baku gambir dunia, masih menghadapi tantangan dalam pengolahan lanjutan. Ironisnya, banyak gambir diekspor mentah ke negara lain, seperti India, yang kemudian mengolahnya dan menjual kembali ke pasar global, termasuk Amerika Serikat, dengan harga yang jauh lebih tinggi. "Gambir kita diekspor ke India, lalu dijual kembali oleh India ke Amerika. Potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun," ungkap Amran, menyoroti kerugian ekonomi akibat minimnya hilirisasi dan pentingnya mengambil alih proses nilai tambah tersebut.
Meskipun rincian CPO tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kutipan, Amran secara implisit mengindikasikan bahwa komoditas ini juga memiliki potensi nilai tambah yang setara, yakni Rp5.000 triliun, untuk mencapai total Rp15.000 triliun. Hilirisasi CPO sendiri mencakup berbagai produk turunan strategis seperti oleokimia untuk industri kosmetik dan farmasi, biofuel sebagai energi terbarukan, hingga produk pangan olahan yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan minyak mentah. Ini merupakan sektor krusial mengingat Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dan penguatan hilirisasi akan memperkuat posisi tawar negara di pasar internasional.
Visi hilirisasi ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah strategi fundamental untuk menciptakan kemandirian ekonomi, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia benar-benar dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Dengan fokus pada pengolahan di dalam negeri, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam rantai nilai global untuk komoditas-komoditas strategis ini, mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan ekonomi yang diperhitungkan.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar