55 NEWS – Singapura, sebuah negara-kota yang dikenal dengan kemajuan ekonominya yang pesat dan stabilitasnya, telah lama menjadi magnet bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mendambakan perbaikan taraf hidup. Daya tarik utama Negeri Singa ini tidak hanya pada infrastruktur kelas dunia dan lingkungan yang tertata rapi, melainkan juga pada prospek penghasilan yang signifikan, jauh melampaui rata-rata upah di banyak negara berkembang. Fenomena ini mendorong banyak individu untuk mempertimbangkan Singapura sebagai destinasi strategis guna meningkatkan kondisi finansial dan mengembangkan karier profesional mereka di kancah internasional.

Related Post
Berbeda dengan sistem ketenagakerjaan di Indonesia yang mengenal Upah Minimum Regional (UMR) sebagai patokan gaji terendah yang berlaku secara umum, Singapura mengadopsi pendekatan yang lebih dinamis dan terfragmentasi dalam menentukan remunerasi. Negara ini secara eksplisit tidak memiliki UMR tunggal yang berlaku universal untuk seluruh sektor pekerjaan. Sebagai gantinya, pemerintah Singapura menerapkan model upah progresif yang dikenal sebagai Progressive Wage Model (PWM) dan Local Qualifying Salary (LQS).

PWM dirancang untuk memastikan pekerja di sektor-sektor tertentu, seperti kebersihan, keamanan, lanskap, dan ritel, mendapatkan upah minimum yang layak seiring dengan peningkatan keterampilan dan produktivitas mereka. Model ini secara fundamental mendorong peningkatan karier dan remunerasi berdasarkan kompetensi yang teruji, bukan semata-mata berdasarkan masa kerja. Sementara itu, LQS menetapkan ambang batas gaji minimum bagi pekerja lokal untuk memastikan mereka tetap kompetitif di pasar kerja dan memiliki daya beli yang memadai.
Bagi pekerja kantoran atau profesional di sektor-sektor lain yang lebih spesifik, standar penggajian di Singapura sangat ditentukan oleh dinamika pasar dan standar industri yang berlaku. Gaji yang ditawarkan sangat bervariasi, bergantung pada jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, kualifikasi, pengalaman, serta permintaan dan penawaran tenaga kerja di bidang spesifik tersebut. Ini berarti, seorang TKI dengan keahlian khusus dan pengalaman relevan memiliki potensi untuk mendapatkan gaji yang sangat kompetitif, bahkan di atas ekspektasi rata-rata, menjadikannya peluang investasi karier yang menjanjikan.
Mengingat tidak adanya UMR yang baku, banyak calon TKI dan lulusan baru yang tertarik untuk bekerja di Singapura kerap bertanya-tanya mengenai kisaran gaji yang bisa mereka peroleh, khususnya untuk tahun 2026. Penting untuk dipahami bahwa meskipun tidak ada angka UMR yang pasti, sistem PWM dan LQS, ditambah dengan standar pasar yang kuat dan transparan, secara efektif memastikan adanya dasar penghasilan yang kompetitif, terutama bagi mereka yang memiliki kualifikasi dan keterampilan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, riset mendalam mengenai standar gaji di sektor yang diminati menjadi kunci bagi para TKI untuk merencanakan masa depan ekonomi mereka di Singapura dengan lebih matang dan strategis.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar