55 NEWS – Jakarta – Dinamika kabinet dan lembaga keuangan negara kembali menjadi sorotan publik menyusul rotasi jabatan penting. Juda Agung, seorang ekonom senior dengan rekam jejak panjang di Bank Indonesia, resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Kabinet Merah Putih pada Kamis, 5 Februari 2026. Penunjukan ini, yang terjadi seiring dengan Thomas Djiwandono menempati posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) – jabatan yang sebelumnya dipegang oleh Juda – sontak memicu spekulasi publik mengenai adanya ‘tukar guling’ posisi. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas membantah isu tersebut.

Related Post
Menanggapi penunjukannya, Juda Agung menjelaskan bahwa keputusan untuk melepas jabatan Deputi Gubernur BI merupakan konsekuensi dari penugasan baru yang ia terima. "Alasan pengunduran diri jelas, karena saya ditugaskan sebagai Wakil Menteri Keuangan. Tentu saja tidak bisa merangkap sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, dua otoritas yang berbeda," ungkap Juda di Istana Negara, Jakarta, Kamis, usai dilantik Presiden Prabowo Subianto. Juda menegaskan bahwa tawaran untuk menduduki kursi Wamenkeu telah diterimanya jauh-jauh hari, membantah kesan mendadak dalam proses transisi ini. "Cukup jauh-jauh hari. Bukan mendadak. Betul, betul," paparnya.

Di sisi lain, Thomas Djiwandono kini resmi mengisi posisi Deputi Gubernur BI, jabatan krusial yang sebelumnya diemban oleh Juda Agung. Pergeseran dua figur kunci ini tak pelak menarik perhatian luas dari kalangan ekonom dan pengamat kebijakan, memunculkan berbagai pertanyaan mengenai latar belakang dan implikasinya.
Menanggapi derasnya spekulasi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan klarifikasi tegas. Saat diwawancarai awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Purbaya membantah keras narasi ‘tukar guling’ yang beredar. "Bukan tukar guling kebetulan aja," tegas Purbaya, seperti dikutip 55tv.co.id.
Purbaya menekankan bahwa penunjukan Juda Agung sebagai Wamenkeu didasari oleh pertimbangan kompetensi dan rekam jejak yang solid. Menurutnya, daripada harus melalui proses panjang pencarian figur baru, kapabilitas Juda Agung dinilai sangat relevan dan tepat untuk mengisi pos strategis tersebut. "Kemampuan Pak Juda bisa menggantikan Pak Thomas ditaruh di situ daripada saya pusing-pusing cari. Saya nggak tahu kalau seperti itu. Saya nggak tahu, nggak ada urusan," pungkas Purbaya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa keputusan rotasi jabatan ini murni didasarkan pada kebutuhan fungsional organisasi dan penilaian objektif terhadap kapabilitas individu, bukan hasil dari kesepakatan pertukaran posisi.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar