55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dengan optimisme menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil melewati masa-masa sulit krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Sejak tanggal 4 April lalu, kondisi cadangan LPG nasional menunjukkan peningkatan signifikan, kini berada di level aman di atas 10 hari. Pernyataan ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi dan ketahanan energi domestik di tengah gejolak global yang penuh ketidakpastian.

Related Post
Bahlil menjelaskan bahwa peningkatan cadangan ini bukan tanpa alasan. "Alhamdulillah, cadangan LPG kita sekarang kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal-kapal pengangkut akan segera masuk," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (8/4/2026). Ia menambahkan, keberhasilan ini juga didukung oleh kebijakan strategis pemerintah yang tidak lagi mengimpor solar, menyisakan hanya bensin sekitar 20-22 juta kiloliter sebagai komoditas impor utama. Ini menandai langkah maju dalam upaya mengurangi ketergantungan impor energi.

Kondisi pasokan energi nasional yang terkendali ini menjadi bukti nyata ketangguhan Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pemerintah menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari wilayah yang rawan konflik relatif sangat terbatas, sebuah strategi mitigasi risiko yang patut diacungi jempol.
Lebih lanjut, Bahlil memaparkan bahwa impor dari kawasan Timur Tengah hanya terbatas pada minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20-25 persen dari total kebutuhan. "Kita tidak pernah mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) jadi dari Timur Tengah. Yang ada itu tinggal crude-nya saja, sekitar 20-25 persen," tegasnya. Ini menunjukkan strategi diversifikasi yang matang untuk menghindari risiko pasokan BBM jadi dari wilayah yang bergejolak.
Untuk memperkuat ketahanan energi dan memastikan pasokan yang berkelanjutan, pemerintah telah mengambil langkah proaktif dengan mendiversifikasi sumber pasokan minyak mentah dari berbagai negara. Kini, Indonesia menjalin kerja sama dengan negara-negara seperti Angola, Nigeria, hingga Amerika Serikat. Selain itu, pasokan LPG nasional juga tidak lagi bergantung pada jalur distribusi krusial di Selat Hormuz. Sebaliknya, sumber pasokan LPG kini berasal dari negara-negara lain yang lebih stabil, seperti Australia, memastikan kelancaran distribusi tanpa terpengaruh gejolak regional.
"Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain. Jadi kita insyaAllah sudah clear lah, insyaAllah aman," pungkas Bahlil, meyakinkan publik akan stabilitas dan keamanan pasokan energi Indonesia di masa mendatang, sekaligus memberikan sinyal positif bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar