55 NEWS – Jakarta – Langkah progresif Presiden Prabowo Subianto dalam mengakselerasi program elektrifikasi nasional, khususnya melalui promosi kompor listrik dan kendaraan listrik, kini dipandang sebagai pilar strategis untuk memperkukuh fondasi kedaulatan energi Indonesia. Inisiatif ini hadir di tengah lanskap pasokan energi global yang penuh ketidakpastian, menuntut respons adaptif dari negara-negara konsumen energi besar seperti Indonesia.

Related Post
Pengamat Energi terkemuka, Sofyano Zakaria, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan terobosan krusial untuk memangkas defisit neraca energi nasional yang selama ini sangat bergantung pada impor, terutama untuk komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Menurutnya, momentum elektrifikasi harus digenjot dengan serius mengingat posisi Indonesia yang masih rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan energi global.

"Ketergantungan kita pada pasokan energi impor, yang mayoritas distribusinya melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, menjadikan ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global," papar Sofyano, dalam keterangannya kepada 55tv.co.id pada Selasa (17/3/2026). Ia menambahkan bahwa setiap gejolak di kawasan tersebut dapat langsung memukul stabilitas pasokan dan harga energi di dalam negeri.
Lebih lanjut, Sofyano menjelaskan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki kapasitas produksi listrik yang berlimpah ruah. Potensi ini, lanjutnya, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendiversifikasi portofolio energi nasional, menggantikan konsumsi energi berbasis fosil yang selama ini dominan. Baik di sektor rumah tangga, yang masih mengandalkan LPG, maupun di sektor transportasi yang didominasi BBM, transisi ke energi listrik dapat menjadi solusi jangka panjang.
"Dengan kapasitas listrik terpasang yang substansial, program elektrifikasi dapat diarahkan untuk secara progresif menggantikan penggunaan energi yang masih bergantung pada impor. Bayangkan, LPG di rumah tangga bisa digantikan kompor listrik, dan BBM pada transportasi beralih ke kendaraan listrik," ujarnya optimis.
Sofyano juga menyoroti percepatan adopsi kendaraan listrik (EV) sebagai katalisator utama dalam menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan. Langkah ini tidak hanya akan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan, tetapi juga meringankan beban subsidi energi dan memperkuat ketahanan pasokan energi domestik. Dengan demikian, visi kemandirian energi Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah agenda strategis yang tengah diimplementasikan.
Editor: Akbar soaks







Tinggalkan komentar