55 NEWS – Presiden Prabowo Subianto telah mengeluarkan instruksi tegas kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk mempercepat program elektrifikasi di ribuan desa yang hingga kini masih gelap gulita. Target ambisius ini diharapkan tuntas tahun ini, membawa harapan baru bagi pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil, sekaligus menjadi sinyal positif bagi iklim investasi di sektor energi.

Related Post
Perintah tersebut disampaikan Prabowo saat mendengarkan paparan Bahlil mengenai kondisi 5.700 desa yang belum terjamah aliran listrik. Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dalam pembekalan Kabinet Merah Putih dalam kegiatan retret Jilid II yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026), Bahlil melaporkan bahwa dari jumlah tersebut, baru sekitar 1.400 desa yang telah berhasil tersambung atau dinyalakan listriknya sebagai bagian dari upaya tahun 2025.

"Bapak Presiden meminta percepatan agar 5.700 desa di tahun 2025 ini dapat semua sudah teraliri listrik," ujar Prasetyo, mengutip arahan Presiden. Prabowo menekankan pentingnya seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati akses listrik yang merata, bukan hanya sebagai fasilitas dasar, tetapi juga sebagai pendorong roda ekonomi lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Komitmen pemerintah untuk meningkatkan pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), diwujudkan melalui Program Listrik Desa (Lisdes) yang digagas Kementerian ESDM untuk periode 2025 hingga 2029 mendatang. Program ini merupakan bagian integral dari strategi pembangunan nasional untuk mengurangi disparitas regional.
Program Lisdes menargetkan elektrifikasi untuk 5.758 desa yang belum berlistrik PLN, dengan pembangunan infrastruktur kelistrikan perdesaan dan penyambungan listrik bagi sekitar 1,2 juta rumah tangga. Target ini selaras dengan arah kebijakan ketenagalistrikan yang dituangkan pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2025–2034, menandakan sinergi strategis dalam mewujudkan visi energi nasional yang berkeadilan.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menegaskan bahwa upaya ini adalah manifestasi kehadiran negara bagi masyarakat di pelosok. "Akses listrik bukan sekadar terang. Ini bisa membuka kesempatan belajar, meningkatkan produktivitas ekonomi, dan layanan kesehatan yang lebih baik," kata Yuliot, seperti dilansir 55tv.co.id. Ia menambahkan bahwa Lisdes 2025–2029 dirancang untuk menghadirkan manfaat nyata itu hingga ke desa-desa terjauh, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi makro.
Untuk mengatasi tantangan geografis di daerah 3T yang umumnya memiliki kondisi akses yang menantang, strategi yang diterapkan akan mengombinasikan sambungan on-grid di lokasi yang berdekatan dengan jaringan PLN, serta solusi off-grid yang inovatif bagi daerah yang lebih terpencil. Pendekatan adaptif ini diharapkan mampu menjangkau setiap sudut negeri, memastikan tidak ada lagi wilayah yang tertinggal dalam menikmati kemajuan infrastruktur dasar.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar