55 NEWS – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, pada Jumat (19/12/2025) melangsungkan pertemuan strategis dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan. Diskusi krusial ini berfokus pada upaya mendalam untuk memperkuat sektor furnitur dan elektronik nasional, sekaligus membuka jalan bagi Indonesia untuk menembus rantai pasok semikonduktor global yang sangat kompetitif.

Related Post
Anindya Bakrie menyoroti potensi pasar furnitur dunia yang masif, diperkirakan mencapai USD300 miliar. Namun, kontribusi Indonesia saat ini masih terbilang kecil, baru menyentuh angka USD2,5 miliar. Meskipun sektor ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, tantangan besar membayangi berupa menyusutnya surplus perdagangan, imbas dari derasnya serbuan produk impor di pasar domestik.

"Tadi kita mendiskusikan kira-kira deregulasi apa atau insentif apa yang bisa dilakukan. Mulai dari tadi pendanaan, kita bicara bagaimana pendanaannya, bunganya bisa lebih kecil," ungkap Anindya kepada 55tv.co.id usai pertemuan, menegaskan komitmen untuk mencari solusi konkret.
Di sisi lain, sektor elektronik juga menjadi perhatian utama. Anindya mengungkapkan bahwa Indonesia telah mulai merambah industri semikonduktor melalui program hilirisasi silika. Kendati demikian, hambatan utama yang dihadapi adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, khususnya insinyur dan tenaga ahli. Kadin mengusulkan kolaborasi intensif dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Pendidikan untuk mencetak SDM berkualitas yang mampu mengisi kebutuhan industri bernilai tambah tinggi tersebut.
Menanggapi isu pendanaan, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, turut menekankan pentingnya akses modal murah untuk mendorong pertumbuhan ekspor mebel. Target ambisius yang dicanangkan adalah mencapai USD6 miliar. Salah satu usulan konkret yang diajukan adalah peningkatan volume pendanaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
"Misalnya melalui LPEI, tadi ditegaskan, kita dapat kurang lebih sekitar 6 persen. Namun, volumenya dinaikin. Saat ini baru 200 miliar, mungkin kita nanti 16 triliun ya untuk bisa mendorong pertumbuhan ke 6 miliar dolar dari saat ini," papar Abdul Sobur, menggambarkan besarnya kebutuhan dukungan finansial untuk mencapai target ekspor yang signifikan. Pertemuan ini menggarisbawahi urgensi sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memacu daya saing industri nasional di kancah global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar