55 NEWS – Gejolak harga komoditas pangan kembali menjadi sorotan tajam di awal pekan ini. Harga cabai rawit merah dilaporkan telah meroket tajam, bahkan sempat menyentuh angka fantastis Rp100.000 per kilogram. Namun, Badan Pangan Nasional (Bapanas) buru-buru meluruskan persepsi publik, menegaskan bahwa lonjakan harga ini bukan dipicu oleh defisit produksi nasional, melainkan oleh faktor cuaca ekstrem yang mengganggu proses panen.

Related Post
Berdasarkan hasil pemantauan dan inspeksi mendadak yang dilakukan Bapanas di sentra distribusi utama seperti Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah saat ini memang masih berada di kisaran tinggi, yakni Rp80.000 per kilogram. Angka ini sedikit melandai dibandingkan puncaknya sepekan sebelumnya yang sempat menembus Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram, memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan secara gamblang bahwa stok cabai rawit di tingkat nasional sebenarnya masih dalam kondisi yang sangat memadai. "Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik," ujar Deputi Ketut dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (16/2/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id.
Ketut Astawa menambahkan, intensitas curah hujan yang sangat tinggi menjadi biang kerok utama di balik terhambatnya proses pemetikan. Kondisi cuaca ekstrem ini membuat para tenaga kerja di lahan pertanian enggan untuk memanen. Alasannya jelas, cabai yang dipetik saat hujan lebat atau dalam kondisi basah rentan sekali mengalami pembusukan lebih cepat, yang tentu akan merugikan petani maupun pedagang.
Situasi ini menyoroti kerapuhan rantai pasok pangan terhadap perubahan iklim. Meskipun ketersediaan komoditas secara makro tercukupi, gangguan pada salah satu mata rantai, dalam hal ini proses panen, dapat secara signifikan memengaruhi pasokan ke pasar dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga yang membebani konsumen. Bapanas terus berupaya memantau dinamika ini dan mencari solusi jangka pendek maupun panjang untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah tantangan cuaca.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar