Terungkap! Hanya Segelintir Orang Kuasai Mayoritas Simpanan di Bank Nasional: Data LPS Terbaru Ungkap Jurang Ketimpangan Ekonomi yang Kian Menganga! Bagaimana Nasib Miliaran Rekening Lainnya?

Terungkap! Hanya Segelintir Orang Kuasai Mayoritas Simpanan di Bank Nasional: Data LPS Terbaru Ungkap Jurang Ketimpangan Ekonomi yang Kian Menganga! Bagaimana Nasib Miliaran Rekening Lainnya?

55 NEWS – Sebuah realita ekonomi yang mengkhawatirkan kembali terkuak, menyoroti lebarnya jurang ketimpangan di Indonesia. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa mayoritas simpanan di bank umum nasional kini terkonsentrasi di tangan segelintir nasabah super kaya, memicu pertanyaan serius tentang distribusi kekayaan dan inklusi keuangan.

COLLABMEDIANET

Hingga akhir Januari 2026, total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tersimpan di bank umum tercatat mencapai angka fantastis Rp10.115,93 triliun. Namun, yang mengejutkan adalah dominasi kelompok nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar, yang secara kolektif menguasai Rp5.786,83 triliun. Angka ini setara dengan 57,69 persen dari keseluruhan DPK, atau lebih dari separuh total simpanan nasional.

Terungkap! Hanya Segelintir Orang Kuasai Mayoritas Simpanan di Bank Nasional: Data LPS Terbaru Ungkap Jurang Ketimpangan Ekonomi yang Kian Menganga! Bagaimana Nasib Miliaran Rekening Lainnya?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, dalam wawancaranya dengan 55tv.co.id pada Sabtu (28/3/2026), menegaskan, "Kelompok nominal tertinggi, yaitu rekening dengan saldo lebih dari Rp5 miliar, mencapai Rp5.786,83 triliun. Porsinya merupakan 57,69 persen atau lebih dari separuh total Simpanan Pihak Ketiga." Pernyataan ini menggarisbawahi konsentrasi kekayaan yang signifikan.

Ketimpangan ini semakin kentara jika kita menilik perbandingan jumlah rekening. Nasabah dari kategori ‘tier tujuh’ – mereka yang memiliki saldo di atas Rp5 miliar – hanya berjumlah sekitar 153,24 ribu rekening. Angka ini sangat kecil, hanya 0,02 persen dari total 671,40 juta rekening yang ada. Namun, rata-rata saldo per rekening di kelompok elit ini mencapai Rp37,76 miliar, sebuah jumlah yang mencengangkan.

Sebaliknya, kelompok masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta mendominasi jumlah rekening secara masif, mencapai 98,91 persen atau 664,08 juta rekening. Ironisnya, total nilai simpanan mereka hanya berkisar Rp1.116,31 triliun, yang setara dengan 11,13 persen dari total DPK. Ini berarti, rata-rata saldo per rekening di kelompok mayoritas ini hanya sekitar Rp1,68 juta, sebuah kontras yang tajam.

Tren ini bukan fenomena baru, melainkan akumulasi selama bertahun-tahun. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, tepatnya dari Januari 2020 hingga Januari 2026, simpanan kelas atas menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat, mencapai 91,93 persen. Sementara itu, simpanan kelas menengah hanya tumbuh 34,22 persen, dan yang paling memprihatinkan, simpanan kelas bawah hanya tumbuh 29,83 persen.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah indikator kuat dari tantangan struktural dalam perekonomian Indonesia. Konsentrasi simpanan yang masif pada segelintir orang dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas ekonomi jangka panjang, serta menghambat upaya pemerataan kesejahteraan. Ini juga menjadi cerminan dari kurangnya mobilitas ekonomi ke atas bagi sebagian besar masyarakat.

Data LPS ini menjadi pengingat penting bagi pembuat kebijakan untuk terus merumuskan strategi yang lebih efektif dalam mendorong inklusi keuangan dan mengurangi ketimpangan. Tanpa intervensi yang tepat, jurang antara ‘si kaya’ dan ‘si biasa’ di sektor perbankan dikhawatirkan akan terus melebar, menciptakan implikasi sosial dan ekonomi yang lebih luas di masa mendatang.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar