55 NEWS – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi secara optimis menyatakan bahwa implementasi kebijakan Flexible Working Arrangement (FWA) akan menjadi kunci vital dalam menjamin kelancaran arus transportasi selama periode Lebaran tahun 2026. Menurutnya, langkah strategis ini memiliki potensi besar untuk mendistribusikan pergerakan masyarakat, mencegah penumpukan massa pada satu waktu puncak tertentu, dan pada akhirnya, memberikan dampak positif yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi dan sosial.

Related Post
Dudy menjelaskan, "Kebijakan ini bukan hanya sekadar memberikan fleksibilitas, melainkan membuka ruang yang lebih luas untuk pengaturan perjalanan yang jauh lebih aman dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat." Ia menambahkan, dengan terurainya kepadatan pada momen-momen krusial, beban operasional para petugas di lapangan akan jauh lebih ringan, memungkinkan optimalisasi manajemen lalu lintas secara menyeluruh. Pernyataan ini disampaikan Menhub Dudy di Jakarta pada Minggu (15/2/2026).

Pemerintah, melalui koordinasi lintas sektor, telah menyepakati jadwal penerapan FWA bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sektor swasta, yaitu pada tanggal 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026. Keputusan ini didasari oleh hasil Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan. Data survei tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa persepsi dan preferensi masyarakat mengindikasikan efektivitas FWA dalam mereduksi potensi puncak pergerakan arus mudik, khususnya pada H-5 dan H-3. Dengan adanya FWA, pola pergerakan masyarakat saat mudik diprediksi akan lebih merata, tersebar ke hari-hari sebelum H-3 dan H-5, bahkan hingga H-6 sampai H-8.
Tidak hanya pada arus mudik, efektivitas FWA juga tercermin dalam preferensi masyarakat untuk arus balik. Survei menggarisbawahi bahwa kebijakan ini sangat efektif dalam menekan potensi lonjakan pergerakan pada puncak arus balik, yakni sekitar H+4 hingga H+6 pasca-Lebaran. Fenomena ini menghasilkan distribusi kepadatan yang lebih merata, seiring dengan keputusan sebagian masyarakat untuk memodifikasi jadwal perjalanan mereka, bergerak di luar rentang waktu H-8 hingga H+8, baik lebih awal maupun lebih lambat. Ini menunjukkan adaptasi signifikan dalam perencanaan mobilitas publik yang berpotensi mengurangi tekanan pada infrastruktur dan layanan transportasi.
Menhub Dudy lebih lanjut memaparkan data proyeksi dari Survei Angkutan Lebaran 2026, yang memperkirakan total pergerakan masyarakat akan mencapai 143,9 juta orang. Angka ini sedikit menurun dibandingkan proyeksi survei tahun 2025 yang mencapai 146 juta orang, meskipun realisasi pergerakan pada tahun 2025 justru melampaui ekspektasi, mencapai 154 juta orang. Penurunan proyeksi ini, menurut 55tv.co.id, bisa jadi indikasi awal keberhasilan FWA dalam mengelola volume pergerakan secara lebih terencana, sekaligus mengoptimalkan perputaran ekonomi di berbagai daerah tanpa terpusat pada satu periode saja.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar