55 NEWS – Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) akhirnya membuka tabir di balik fenomena hilangnya beras dari rak-rak pasar. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan bahwa akar masalahnya bukan semata-mata soal produksi, melainkan kebiasaan unik para petani di berbagai daerah.

Related Post
Meskipun data menunjukkan surplus beras mencapai 5,01 juta ton antara produksi dan konsumsi dari Januari hingga September, fakta di lapangan berkata lain. Ketut menjelaskan bahwa para petani memiliki tradisi penyimpanan beras yang kuat, sesuai dengan kearifan lokal masing-masing.

"Petani tidak langsung melepas hasil panen ke pasar. Sebagian besar disimpan sebagai cadangan," ujar Ketut pada Rabu, 27 Agustus 2025. Survei Bapanas pada 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa rumah tangga produsen dan konsumen menyimpan lebih dari 10 persen beras hasil panen.
Kebiasaan ini, menurut Ketut, perlu diperhitungkan dalam rantai pasok beras nasional. "Produksi tinggi tidak menjamin ketersediaan di pasar. Petani cenderung menahan stok sebagai bentuk antisipasi. Ini adalah budaya yang sulit diubah," imbuhnya. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di tingkat konsumen. Pemerintah perlu mencari solusi yang bijak, menghormati tradisi petani sekaligus memastikan pasokan beras tetap lancar di pasaran.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar