Wamenkeu Buka-bukaan! Rupiah dan APBN di Ujung Tanduk? Ini Skenario Terburuk Ekonomi RI Akibat Perang Timur Tengah yang Wajib Anda Tahu!

Wamenkeu Buka-bukaan! Rupiah dan APBN di Ujung Tanduk? Ini Skenario Terburuk Ekonomi RI Akibat Perang Timur Tengah yang Wajib Anda Tahu!

55 NEWS – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia berada dalam posisi siap untuk merespons berbagai gejolak global, termasuk eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang saat ini tengah berlangsung. Juda menekankan bahwa postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, ditopang oleh sejumlah indikator makroekonomi nasional yang solid, masih memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat.

COLLABMEDIANET

Dalam sebuah forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan pada Senin (2/3/2026), Juda menjelaskan, "APBN kita memang didesain dengan prinsip kehati-hatian (prudent) dan fleksibilitas yang tinggi. Kami memastikan defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 40 persen. Fleksibilitas ini krusial, terutama untuk menghadapi guncangan-guncangan yang bersumber dari dinamika global."

Wamenkeu Buka-bukaan! Rupiah dan APBN di Ujung Tanduk? Ini Skenario Terburuk Ekonomi RI Akibat Perang Timur Tengah yang Wajib Anda Tahu!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kendati demikian, Juda tidak menampik adanya potensi tekanan signifikan. Ia secara khusus menyoroti ancaman inflasi harga minyak global yang berpotensi membesar, terutama jika Iran benar-benar merealisasikan blokade Selat Hormuz. Imbasnya, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS diperkirakan tidak akan luput dari pelemahan, yang pada akhirnya akan menciptakan tekanan serius pada ruang fiskal nasional.

Juda merinci dampak finansial dari potensi gejolak tersebut. "Setiap kenaikan satu dolar pada ICP (Indonesian Crude Price) berpotensi menambah defisit APBN sebesar Rp6,8 triliun. Lebih lanjut, pelemahan nilai tukar Rupiah sebesar Rp100 per dolar AS akan berdampak pada peningkatan defisit sekitar Rp0,8 triliun. Dan jika yield obligasi naik 0,1 persen, ini akan menambah defisit anggaran sekitar Rp1,9 triliun," pungkas Juda, memberikan gambaran konkret mengenai tantangan yang mungkin dihadapi.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar