55 NEWS – Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2025 mengalami penurunan signifikan. Dari target awal 5,11%, angka tersebut kini diperkirakan berada di kisaran 4,5% – 5,0%, sebuah penurunan yang cukup mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan capaian 5,03% di tahun 2024. Hal ini diungkapkan oleh Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER), yang melihat adanya sejumlah faktor penghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Related Post
Ketidakpastian global, terutama meningkatnya perang dagang, menjadi salah satu penyebab utama perlambatan ini. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi, sehingga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. "Kami berharap pemerintah dapat merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus tepat sasaran, agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak," ujar Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, pada Rabu (14/5/2025).

Data kuartal pertama tahun 2025 memperkuat kekhawatiran tersebut. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya mencapai 4,87% year-on-year (YoY), lebih rendah dari 5,02% pada kuartal sebelumnya, dan menjadi laju paling lambat sejak kuartal ketiga 2021. Pelemahan daya beli masyarakat terlihat dari melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi 4,89% YoY, terutama pada sub-komponen makanan & minuman dan transportasi & komunikasi.
Investasi juga mengalami penurunan signifikan, dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh 2,12% YoY. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh penurunan investasi pada bangunan & struktur serta mesin & peralatan. Meskipun belanja pemerintah mengalami kontraksi (-1,38% YoY) setelah euforia Pemilu tahun sebelumnya, dan ekspor barang & jasa meningkat berkat kinerja ekspor nonmigas, hal tersebut tak cukup untuk mengimbangi perlambatan di sektor lain.
Sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan tinggi (10,52% YoY), didorong oleh peningkatan produksi tanaman pangan. Sektor manufaktur, sebagai tulang punggung perekonomian, tumbuh stabil di angka 4,55%, ditopang oleh permintaan ekspor di industri logam dasar. Sektor perdagangan ritel dan jasa juga menunjukkan kinerja positif, masing-masing 5,03% dan didukung oleh pariwisata. Namun, sektor pertambangan dan konstruksi mengalami kontraksi dan perlambatan yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apakah pemerintah mampu mengatasi tantangan ini dan mendorong kembali pertumbuhan ekonomi? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar