55 NEWS – Gas bumi memegang peranan krusial sebagai jembatan dalam perjalanan Indonesia menuju energi bersih. Namun, di balik potensi besarnya, industri gas nasional menghadapi dua tantangan utama: jaminan pasokan yang berkelanjutan dan infrastruktur yang memadai untuk mendistribusikan gas dari sumber ke pusat-pusat pembangkit listrik.

Related Post
Direktur Gas dan BBM PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Erma Melina Sarahwati, menegaskan bahwa gas bumi adalah kunci untuk mencapai target emisi nol bersih. "Dibandingkan batu bara dan BBM, gas adalah energi fosil yang paling ramah lingkungan. Ia dibutuhkan untuk menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan kita," ujarnya di Jakarta, Senin (24/11/2025).

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menunjukkan ambisi besar Indonesia untuk menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW, dengan lebih dari 75% berasal dari energi terbarukan. Namun, gas tetap memegang peranan penting dengan alokasi 10,3 GW sebagai pengaman sistem. Ini mengingat sifat energi surya dan angin yang tidak stabil, serta waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pembangkit panas bumi dan hidro.
"Kebutuhan gas PLN terus meningkat, rata-rata 5,3% per tahun. Pada tahun 2025, kebutuhan mencapai 1.600 BBTUD, dan diproyeksikan melonjak menjadi 2.600 BBTUD pada tahun 2034, terutama didorong oleh program konversi pembangkit listrik dari BBM ke gas," jelas Erma.
Menurunnya produksi gas dari pipa membuat PLN semakin bergantung pada pasokan LNG. Kontrak LNG Tangguh, yang memasok sekitar 60-62 kargo per tahun, akan berakhir secara bertahap hingga tahun 2034. Oleh karena itu, diperlukan sumber pasokan gas tambahan, baik dari penemuan cadangan baru, pengalihan pasokan domestik dari kontrak ekspor yang akan berakhir, maupun perpanjangan kontrak yang ada.
Tantangan lainnya adalah disparitas lokasi antara sumber gas dan pusat permintaan. Cadangan gas terbesar berada di wilayah timur Indonesia, seperti Maluku, Papua, dan Kalimantan, sementara pusat beban berada di Jawa dan Sumatera.
Untuk mengatasi masalah ini, Indonesia telah membangun jaringan pipa dan memiliki beberapa Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) seperti Lampung, Arun, Nusantara Regas, Bali, dan Gorontalo, dengan total kapasitas penyimpanan sekitar 700 ribu meter kubik dan kemampuan regasifikasi 1,4 juta kaki kubik per hari. Upaya ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan pasokan dan permintaan gas di seluruh Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar