55 NEWS – PT Pertamina tengah menghadapi tantangan besar dalam menggarap proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek strategis nasional ini, yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 12 Januari 2026, bukan sekadar pembangunan biasa. Menurut Direktur Eksekutif Center for Energy Policy, M Kholid Syeirazi, kompleksitasnya sangat tinggi, menuntut penerapan standar Health, Safety, and Environment (HSE) yang luar biasa ketat, baik bagi Pertamina maupun mitra kontraktornya. "Sangat rumit, termasuk fasilitasnya. Karena itu kontraktor juga harus yang teruji. Termasuk dalam penerapan Health, Safety, and Environment (HSE) tinggi. HSE ini kan penting sekali kan. Ini high risk juga," ujar Kholid di Jakarta, Kamis (15/1/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Related Post
Kholid Syeirazi lebih lanjut menjelaskan bahwa esensi dari RDMP Balikpapan bukanlah membangun kilang baru dari nol, melainkan melakukan peningkatan (upgrade) terhadap fasilitas kilang yang sudah eksisting. Ini berarti, proyek raksasa ini harus berjalan sembari kilang tetap beroperasi penuh, sebuah skenario yang secara inheren meningkatkan tingkat kerumitan dan risiko operasional yang harus dikelola dengan sangat hati-hati.

Peningkatan kapasitas menjadi salah satu pilar utama proyek ini. RDMP Balikpapan ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 100 ribu barel per hari, dari semula 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain itu, kompleksitas proyek juga bertambah signifikan dengan integrasi fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), sebuah teknologi canggih yang menjadi game-changer dalam industri pengolahan minyak.
Fasilitas RFCC ini krusial karena memungkinkan pengolahan residu-residu minyak yang sebelumnya kurang bernilai menjadi produk-produk bernilai tinggi. "Dengan adanya fasilitas ini, semua turunan minyak bisa diolah sebagai produk yang punya nilai jual. Termasuk nanti yang dari olahan minyak menjadi produk dan petrokimia," papar Kholid, menyoroti potensi peningkatan nilai tambah ekonomi yang signifikan dari proyek ini, yang tidak hanya menghasilkan bahan bakar tetapi juga produk petrokimia yang strategis.
Tidak hanya itu, pembangunan infrastruktur penunjang lainnya juga menuntut spesifikasi teknis yang sangat tinggi. Contohnya, tangki penyimpanan (storage) harus memenuhi standar tertentu, begitu pula dengan jaringan pipa yang wajib memiliki ketahanan anti-korosi maksimal untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan operasional jangka panjang di lingkungan yang korosif.
Secara keseluruhan, proyek RDMP Balikpapan ini merupakan manifestasi dari komitmen Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah produk migas dalam negeri. Namun, di balik ambisi besar tersebut, tersembunyi kerumitan teknis dan risiko operasional yang tidak main-main, menegaskan urgensi pemilihan mitra kontraktor yang benar-benar teruji dan penerapan standar HSE yang tak bisa ditawar. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tonggak penting bagi industri perminyakan Indonesia dan stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar