55 NEWS – Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam inovasi energi terbarukan, membuka babak baru pemanfaatan limbah menjadi sumber daya bernilai tinggi. Melalui langkah strategis yang melibatkan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina, limbah kelapa sawit yang selama ini dianggap sebagai residu, kini akan disulap menjadi sumber energi bersih BioCNG. Proyek ambisius ini tidak hanya menjanjikan diversifikasi energi, tetapi juga potensi ekonomi yang signifikan serta kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon.

Related Post
PGN, melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), telah memantapkan posisinya sebagai pembeli utama (offtaker) BioCNG dari fasilitas produksi yang dikembangkan oleh konsorsium KIS Group dan AEP Group. Keterlibatan PGN Gagas sebagai offtaker utama ini menjadi jaminan pasar yang krusial bagi produk BioCNG, sekaligus menegaskan komitmen PGN dalam mendukung transisi energi nasional dan menciptakan nilai tambah dari sektor perkebunan.

Tonggak sejarah proyek strategis ini secara resmi ditandai dengan seremoni pembangunan pabrik BioCNG di Tapung Hilir, Kampar, Riau, pada Jumat, 6 Februari 2026. Pemilihan lokasi di Riau, salah satu sentra perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, sangat relevan mengingat bahan baku utama proyek ini adalah metana yang berasal dari pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent – POME) yang dihasilkan oleh PT Bina Pitri Jaya, bagian dari AEP Group. Ini menandai sinergi antara industri hulu dan hilir dalam menciptakan ekosistem energi berkelanjutan.
Fasilitas produksi BioCNG ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I-2027. Setelah beroperasi penuh, pabrik ini diproyeksikan mampu menghasilkan BioCNG sekitar 142.450 MMBTU per tahun. Angka ini bukan sekadar volume produksi, melainkan representasi dari nilai tambah ekonomi yang dihasilkan dari limbah, sekaligus menjadi pasokan energi alternatif yang krusial bagi berbagai sektor industri dan transportasi di tengah fluktuasi harga energi global.
Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, proyek ini juga membawa dampak positif yang substansial bagi lingkungan. Diperkirakan, fasilitas ini akan berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70.085 ton CO2 per tahun. Ini adalah langkah konkret Indonesia dalam memenuhi komitmennya terhadap agenda dekarbonisasi global dan pencapaian target Net Zero Emission, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat sejalan dengan keberlanjutan lingkungan.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/2/2026), menekankan pentingnya inisiatif ini. "Optimasi BioCNG merupakan langkah yang strategis dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan gas bumi di berbagai sektor. PGN bersama Gagas berkomitmen untuk terus menyediakan energi yang lebih bersih dan mendorong integrasi gas bumi dengan energi baru terbarukan dalam ekosistem energi nasional," ujar Mirza, seperti dikutip dari 55tv.co.id. Pernyataan ini menggarisbawahi visi PGN untuk tidak hanya menjadi penyedia gas, tetapi juga pelopor dalam solusi energi berkelanjutan, membuka peluang investasi baru di sektor energi hijau.
Proyek BioCNG dari limbah sawit ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi yang menguntungkan. Dengan dukungan infrastruktur gas yang kuat dari PGN, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan energi terbarukan lainnya di masa depan, memperkuat ketahanan energi nasional, dan menempatkan Indonesia di garis depan inovasi energi hijau yang berdaya saing global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar