55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara tegas membuka peluang investasi masif di sektor hulu migas nasional. Dalam sebuah pengumuman yang berpotensi mengubah peta persaingan industri, Bahlil menawarkan 110 blok minyak dan gas (migas) baru yang akan segera ditenderkan pemerintah. Lebih dari sekadar tawaran, ia juga menginstruksikan kebijakan afirmatif yang memprioritaskan pengusaha lokal untuk menggarap proyek-proyek bernilai di bawah Rp100 miliar, sebuah langkah strategis untuk pemerataan ekonomi.

Related Post
Peluang investasi jumbo ini disampaikan Bahlil di hadapan para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Menurutnya, sektor hulu migas kini lebih terbuka lebar bagi pelaku usaha nasional, termasuk anggota HIPMI, yang selama ini mungkin merasa sulit menembus dominasi pemain-pemain besar. Pemerintah, kata Bahlil, berkomitmen mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam negeri agar sektor energi tidak lagi hanya bertumpu pada segelintir korporasi.

"Ada sekitar 110 blok minyak baru yang siap kita dorong untuk ditenderkan. Ini adalah kesempatan emas bagi pengusaha, khususnya anggota HIPMI, yang ingin terjun ke sektor hulu migas," ujar Bahlil dalam Sidang Dewan Pleno DPP HIPMI yang berlangsung Senin (16/2/2026), seperti dikutip oleh 55tv.co.id.
Proyek Migas Rp100 Miliar untuk Pengusaha Lokal, Jakarta Minggir Dulu!
Tidak hanya menawarkan blok baru, Bahlil juga mengeluarkan instruksi keras kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Ia meminta agar pola distribusi proyek diubah secara fundamental. Proyek-proyek migas dengan nilai di bawah Rp100 miliar tidak boleh lagi dikerjakan oleh perusahaan yang berbasis di Jakarta, melainkan harus diprioritaskan bagi pelaku usaha lokal di daerah lokasi proyek.
"Saya sudah perintahkan, untuk proyek di bawah Rp100 miliar, pekerjaan itu tidak boleh lagi dikerjakan oleh perusahaan yang berbasis di Jakarta. Prioritaskan kepada anak-anak daerah di lokasi proyek tersebut. Ini adalah bentuk kebijakan afirmatif dari saya sebagai Menteri ESDM," tegasnya, menunjukkan komitmen kuat terhadap pemberdayaan ekonomi daerah.
Kebijakan afirmatif ini, lanjut Bahlil, dirancang untuk menciptakan pemerataan ekonomi sekaligus meningkatkan kapabilitas industri di tingkat daerah. Namun, ia menekankan bahwa prioritas tersebut hanya berlaku bagi pelaku usaha lokal yang benar-benar memiliki kesiapan teknis dan manajerial yang memadai, bukan sekadar mengajukan proposal tanpa kompetensi substansial.
"Dulu, proyek senilai Rp30-Rp40 miliar pun semua dikerjakan oleh (orang) Jakarta. Sekarang, kita berikan semua kepada anak-anak daerah, tetapi ingat, anak-anak daerah yang siap, bukan yang hanya siap proposal saja," pungkas Bahlil, menegaskan pentingnya profesionalisme dan kapasitas riil dalam memanfaatkan peluang emas ini.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar