55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini melontarkan peringatan keras terkait ambisi Indonesia mencapai swasembada energi. Menurut Bahlil, target yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto ini bukan sekadar cita-cita administratif yang mudah diwujudkan, melainkan sebuah keharusan yang menuntut terobosan konkret dan radikal jika Indonesia ingin lepas dari jerat ketergantungan impor yang membelenggu.

Related Post
Dalam sebuah kesempatan penting, Bahlil menegaskan bahwa kemandirian energi nasional tidak akan pernah terwujud tanpa aksi nyata dan inovasi teknologi yang masif. Ia secara blak-blakan menyoroti bahwa ketergantungan kronis pada impor energi selama ini justru menjadi ladang keuntungan bagi pihak-pihak tertentu, sekaligus cerminan kegagalan serius dalam mendorong kemandirian energi. "Jangan pernah kita bermimpi akan menjadi swasembada energi kalau tidak kita melakukan terobosan. Dan para importir energi ini adalah yang mendapatkan manfaat dari ketidakmampuan kita untuk bagaimana mendorong swasembada," tegas Bahlil. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam sambutannya pada Sidang Dewan Pleno DPP HIPMI, seperti dilansir 55tv.co.id.

Bahlil kemudian membeberkan sejumlah tantangan teknis krusial yang membayangi sektor energi nasional. Salah satu sorotan utamanya adalah kondisi sumur-sumur minyak bumi yang mayoritas sudah uzur, menyebabkan produksi atau lifting minyak dan gas (migas) tidak optimal. Dari total sekitar 39.000 hingga 40.000 sumur minyak yang dimiliki Indonesia, hanya sekitar 17.000 hingga 18.000 sumur yang masih beroperasi. Sisanya, sekitar 20.000 sumur, terbengkalai atau idle karena faktor usia dan keterbatasan teknologi.
"Sumur-sumur tua ini mau tidak mau kita harus intervensi lewat teknologi. Tidak ada cara lain," jelas Bahlil. Kebutuhan akan intervensi teknologi canggih menjadi mutlak untuk merevitalisasi sumur-sumur tua ini, agar potensi cadangan yang masih ada dapat dieksplorasi secara maksimal. Kerjasama strategis, baik dengan pihak domestik maupun internasional, menjadi kunci untuk mengimplementasikan solusi teknologi tersebut dan meningkatkan efisiensi produksi migas nasional.
Pernyataan Menteri Bahlil ini menggarisbawahi urgensi reformasi struktural di sektor energi. Ketergantungan pada impor tidak hanya menguras devisa negara, tetapi juga menciptakan kerentanan ekonomi yang signifikan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Swasembada energi, dalam konteks ini, bukan hanya tentang ketersediaan pasokan, melainkan juga pilar fundamental untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. Tanpa langkah-langkah berani dan investasi pada teknologi inovatif, mimpi Indonesia untuk menjadi negara yang berdaulat energi akan tetap menjadi ilusi belaka, sebagaimana diulas oleh 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar