55 NEWS – Wacana pengadaan 105 ribu unit mobil pick-up sebagai kendaraan operasional bagi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah memicu gelombang protes keras dari berbagai pihak, mulai dari pelaku industri otomotif hingga serikat pekerja nasional. Mereka dengan tegas menyuarakan bahwa kebutuhan sebesar itu seharusnya dapat dipenuhi sepenuhnya oleh kapasitas produksi dalam negeri, tanpa perlu bergantung pada impor.

Related Post
Sorotan tajam ini datang dari Ketua Umum Jumhur Hidayat, yang mengungkapkan keheranannya atas rencana impor tersebut. Menurutnya, Indonesia telah membuktikan diri sebagai pemain global dalam industri otomotif, dengan rekam jejak ekspor mobil yang membentang hampir empat dekade. "Bagaimana mungkin kita berpikir untuk mengimpor 105 ribu unit mobil, sementara Indonesia sudah mengekspor jutaan unit ke lebih dari 80 negara sejak 1987?" ujar Jumhur, Minggu (22/2/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Ia menambahkan, Toyota saja tercatat telah mengekspor lebih dari 3 juta unit hingga proyeksi tahun 2025, belum lagi kontribusi signifikan dari merek-merek besar lainnya seperti Honda, Daihatsu, Mitsubishi, dan lainnya.

Jumhur menilai, gagasan impor ini sama saja dengan merendahkan kapabilitas bangsa sendiri yang telah teruji di kancah internasional. Ia berharap semangat Presiden yang dikenal sangat mendukung industri dalam negeri tidak luntur. "Presiden kita dikenal gandrung industri. Saya harap kegandrungan itu tidak berubah dan tetap berpihak pada produk anak bangsa," tegasnya.
Di tengah kondisi pasar otomotif domestik yang sedang lesu, rencana pembelian produk otomotif dalam skala besar oleh pemerintah seharusnya menjadi angin segar bagi industri lokal. Namun, jika arahnya justru ke impor, hal ini akan memperparah situasi. Jumhur mengungkapkan bahwa saat ini, banyak industri otomotif sedang menghadapi tantangan berat, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan jam kerja demi menghindari PHK massal.
"Kaum buruh yang bekerja di sektor otomotif pasti akan meradang dan marah besar jika rencana impor ugal-ugalan ini tetap dilanjutkan," kata Jumhur. Ia mendesak PT Agrinas Pangan Nusantara, sebagai pihak yang berencana melakukan impor, untuk membatalkan niat tersebut. "Tidak benar jika produk otomotif dalam negeri dianggap tidak bisa bersaing. Jutaan unit mobil yang diekspor dari Indonesia adalah bukti nyata bahwa produk kita sangat kompetitif dan berkualitas global," pungkasnya.
Menanggapi polemik ini, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan penegasan bahwa industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi kendaraan pick-up yang sangat memadai, mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Ia menyebutkan beberapa produsen kendaraan pick-up domestik yang siap memenuhi kebutuhan tersebut, antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.
"Dengan kapasitas produksi yang begitu besar, industri kendaraan pick-up nasional kami nilai sangat mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik, sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global," tegas Menperin, mengindikasikan bahwa impor bukanlah solusi yang diperlukan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar