55 NEWS – Proyeksi mengejutkan dari seorang pakar ekonomi mengindikasikan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi anjlok signifikan hingga menyentuh level Rp22.000 per dolar AS pada kuartal III tahun 2026. Pelemahan drastis ini diperkirakan terjadi seiring dengan potensi perlambatan ekonomi Indonesia dan ancaman resesi yang membayangi.

Related Post
Pakar ekonomi, Ferry Latuhihin, dalam keterangannya pada Selasa (10/3/2026), mengungkapkan bahwa ramalan ini bukan sekadar spekulasi. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional bisa melambat drastis hingga sekitar 3%, bahkan berisiko terjerumus ke jurang resesi pada kuartal IV-2026. "Dolar kemungkinan ke Rp22 ribu di bulan Juli (2026). Rp17 ribu sudah terjadi ya. Dan di Q3, Rp22 ribu ramalan saya. Lantas di Q3, bukan tidak mungkin pertumbuhan kita last di 3%, bahkan bisa resesi di Q4," jelas Ferry, menegaskan urgensi situasi ini.

Ferry menekankan bahwa proyeksinya didasarkan pada analisis mendalam terhadap data dan tren ekonomi terkini, bukan asumsi belaka. Ia menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan masih dibayangi tekanan berat, dengan berbagai indikator yang menunjukkan gambaran suram bagi outlook ekonomi nasional.
Salah satu sorotan utama Ferry adalah kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai menghadapi keterbatasan anggaran. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) disebutnya menuntut pemerintah untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Kondisi ini, menurut laporan dari 55tv.co.id, menambah kompleksitas tantangan ekonomi yang ada.
Lebih lanjut, Ferry menyoroti peringatan yang semakin mendalam dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s, S&P, dan Fitch Ratings. "Bukan tidak mungkin kita menjadi non-investment grade. Ini baru outlooknya saja yang di-downgrade, belum ratingnya. Nah, kalau itu terjadi, there will be a huge capital flight," papar Ferry. Ancaman penurunan peringkat investasi ini berpotensi memicu eksodus modal besar-besaran dari Indonesia, yang akan semakin menekan stabilitas ekonomi dan nilai Rupiah.
Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah saat ini pun sudah sangat signifikan. Ferry berpendapat, tanpa intervensi kuat dan menyeluruh dari otoritas moneter, pelemahan Rupiah berpotensi terjadi lebih dalam. "Sekarang saja, kalau nggak BI all out melakukan intervensi, sudah tembus tujuh, kemarin diperdagangkan Rp17.300, di bank-bank, di luar forex market, ya, detail market namanya," ungkapnya, sebagaimana dikutip oleh 55tv.co.id. Ini menunjukkan betapa krusialnya peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang.
Ferry juga mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% yang dilaporkan sebelumnya justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional. Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara data makro yang disajikan dengan persepsi risiko investasi global terhadap Indonesia, yang bisa berasal dari faktor domestik maupun global. Dengan berbagai indikator dan proyeksi ini, pemerintah dan otoritas terkait dituntut untuk segera merumuskan strategi mitigasi yang komprehensif guna menghadapi potensi gejolak ekonomi yang membayangi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar