Ancaman Geopolitik dan Subsidi Energi Membengkak: DPR Desak Jurus Pamungkas Selamatkan Ekonomi RI, Siapkah Anda Beralih ke Era Listrik?

55 NEWS – Dinamika geopolitik global yang memanas, khususnya konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah, telah membunyikan alarm keras bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara tegas mendesak pemerintah untuk segera mempercepat langkah menuju kemandirian energi nasional, dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam domestik sebagai fondasi stabilitas ekonomi jangka panjang.

COLLABMEDIANET

Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, menyoroti bahwa elektrifikasi, baik pada sektor transportasi maupun rumah tangga, merupakan pilar krusial dalam peta jalan transisi energi Indonesia. Strategi ini menjadi semakin mendesak di tengah volatilitas pasokan dan fluktuasi harga energi global yang berpotensi mengancam stabilitas ekonomi makro.

Ancaman Geopolitik dan Subsidi Energi Membengkak: DPR Desak Jurus Pamungkas Selamatkan Ekonomi RI, Siapkah Anda Beralih ke Era Listrik?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Elektrifikasi kendaraan, menurut Sugeng, bukan sekadar tren, melainkan sebuah inisiatif strategis untuk mendiversifikasi konsumsi energi di sektor transportasi. Dengan beralih dari bahan bakar fosil ke listrik, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada komoditas impor yang harganya rentan fluktuasi global. Langkah ini secara fundamental akan mengalihkan beban energi ke sistem kelistrikan nasional yang sebagian besar bersumber dari dalam negeri, sehingga memperkuat kedaulatan energi.

Kebutuhan mendesak untuk beralih ini diperkuat oleh data lonjakan subsidi energi yang kian membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dari angka Rp95,7 triliun pada tahun 2020, beban subsidi melambung menjadi Rp159,6 triliun di 2023, dan mencapai puncaknya di Rp203,4 triliun pada 2024. Mayoritas alokasi ini tersedot untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Proyeksi anggaran untuk subsidi energi pada tahun 2025 bahkan mencapai Rp394,3 triliun, dengan rencana alokasi sebesar Rp210,06 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, yang porsi terbesarnya tetap untuk BBM dan LPG. Angka-angka ini mencerminkan tekanan fiskal yang signifikan akibat ketergantungan pada energi fosil.

Melihat urgensi tersebut, Sugeng juga mendorong konversi kompor berbahan bakar gas ke kompor listrik di tingkat rumah tangga. Penggunaan kompor listrik menawarkan alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia luas di berbagai daerah. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi beban subsidi LPG, tetapi juga mengoptimalkan infrastruktur kelistrikan yang sudah ada.

Langkah-langkah elektrifikasi ini bukan hanya respons taktis terhadap gejolak global dan tekanan fiskal, melainkan sebuah investasi strategis jangka panjang untuk membangun resiliensi ekonomi dan mencapai kemandirian energi yang hakiki bagi Indonesia di tengah lanskap geopolitik dan ekonomi dunia yang terus berubah.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar