55 NEWS – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan rekor penyaluran pembiayaan perumahan yang monumental, mencapai 6 juta unit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan total nilai fantastis Rp530 triliun, terhitung sejak tahun 1976 hingga awal April 2026. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata dari komitmen BTN dalam memperluas jangkauan kepemilikan hunian bagi jutaan keluarga Indonesia, sekaligus menjadi pilar penguat ekosistem perumahan di Tanah Air.

Related Post
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam sebuah media briefing di Bandung pada Kamis (9/4/2026), menegaskan bahwa torehan 6 juta unit KPR ini adalah sebuah bukti nyata perjalanan panjang dan dedikasi BTN sebagai jangkar utama pembiayaan perumahan nasional. "Selama hampir lima dekade, BTN tidak hanya berperan sebagai penyalur pembiayaan, tetapi juga sebagai arsitek yang turut mengembangkan sebuah ekosistem perumahan yang tidak hanya inklusif tetapi juga berkelanjutan. Jumlah 6 juta rumah yang telah kami biayai mencerminkan kontribusi signifikan BTN terhadap stabilitas sosial dan akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti," ujar Nixon, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Saat ini, BTN tengah gencar memperluas model bisnisnya, tidak lagi hanya mengandalkan model bisnis pembiayaan rumah konvensional. Ke depan, bank pelat merah ini terus memperkuat transformasi strategis menuju konsep ‘beyond mortgage’. Ini berarti BTN akan menawarkan solusi keuangan yang lebih komprehensif bagi keluarga, mencakup tidak hanya pembiayaan hunian tetapi juga berbagai kebutuhan finansial lainnya, mulai dari transaksi sehari-hari, dukungan usaha, hingga perencanaan keuangan jangka panjang masyarakat.
"Kami juga menghadirkan inovasi pembiayaan melalui skema bundling KPR dengan kebutuhan perabot rumah tangga, sehingga nasabah dapat memperoleh solusi pembiayaan yang lebih terjangkau dan terintegrasi dalam satu paket," tambah Nixon, menggarisbawahi upaya bank dalam memberikan nilai tambah bagi nasabahnya.
Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menambahkan bahwa pergeseran tantangan utama kini lebih condong pada sisi pasokan (supply), terutama terkait ketersediaan lahan dan perizinan. BTN merespons tantangan ini dengan mengimplementasikan pendekatan yang lebih proaktif dan terintegrasi untuk menjangkau segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Berdasarkan analisis profil debitur, rata-rata penghasilan pemohon KPR subsidi berada di kisaran Rp4,9 juta per bulan. Segmen ini didominasi oleh para pekerja informal, seperti pedagang kecil dan pekerja lepas, di samping kontribusi signifikan dari pegawai formal seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta.
"Meskipun permintaan akan hunian layak dan terjangkau terus menunjukkan tren peningkatan, sektor perumahan kini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dari sisi pasokan, meliputi ketersediaan lahan dan proses perizinan yang kerap memakan waktu. BTN merespons tantangan ini dengan mengimplementasikan pendekatan yang lebih proaktif dan terintegrasi, memastikan penyaluran KPR dapat berjalan efektif dan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat," jelas Hirwandi, menegaskan komitmen BTN dalam mengatasi hambatan pasar demi pemerataan akses hunian.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar