55 NEWS – Presiden Prabowo Subianto menyuarakan optimisme tinggi terkait kesiapan Indonesia menghadapi gejolak ekonomi global, termasuk potensi dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo baru-baru ini, menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki kapasitas dan resiliensi untuk mengatasi tantangan tersebut.

Related Post
Konflik yang berpotensi menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia, dikhawatirkan akan memicu krisis energi dan mengganggu rantai pasok global secara signifikan. Namun, Prabowo dengan tegas menyatakan, "Terjadi perang di mana-mana, terjadi Selat Hormuz ditutup, kita percaya diri, kita akan mampu mengatasi saudara-saudara sekalian." Ini menunjukkan sikap proaktif pemerintah dalam memitigasi risiko ekonomi dan perdagangan yang mungkin timbul.

Selain isu Selat Hormuz yang mengancam stabilitas energi, Prabowo juga menyoroti ancaman krisis pangan global yang semakin nyata. Ia mengutip peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang memproyeksikan peningkatan drastis jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan. "Dua tahun yang lalu sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia, diperkirakan sekarang sudah meningkat jadi 500 juta, 700 juta FAO memberi warning," ujar Prabowo, menggambarkan urgensi situasi global yang membutuhkan perhatian serius.
Di tengah bayang-bayang krisis tersebut, Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang patut dibanggakan. Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai mengekspor komoditas penting, terutama di sektor pertanian. "Dan saudara-saudara, alhamdulillah kita sekarang sudah mulai ekspor, kita sekarang bantu negara-negara lain saudara-saudara sekalian," tambahnya, menandakan pergeseran posisi Indonesia dari pengimpor menjadi penyuplai pangan dan pupuk di kancah internasional.
Salah satu indikator keberhasilan ini adalah permintaan dari negara lain. Prabowo menceritakan pengalamannya dihubungi Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, yang secara langsung meminta bantuan pupuk dari Indonesia. "Saya ditelepon Perdana Menteri Australia, beliau terima kasih Indonesia punya surplus pupuk dan mereka minta apakah boleh kita jual ke mereka? Saya bilang jual, kirim ke mereka! Negara-negara banyak yang minta pupuk dari kita," jelas Prabowo, menekankan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di sektor pertanian. Hal ini menggarisbawahi peran penting Indonesia sebagai salah satu pilar ketahanan pangan dan pupuk dunia di tengah ketidakpastian global.
Editor: Akbar soaks








Tinggalkan komentar