55 NEWS – Dinamika pasar tenaga kerja global kini memasuki babak baru, di mana fokus utama beralih dari sekadar kepemilikan ijazah formal menuju penguasaan kompetensi yang relevan dan adaptif. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor, menegaskan bahwa kapabilitas dan keahlian praktis menjadi penentu utama bagi para pekerja untuk tetap relevan dan berdaya saing di tengah laju perubahan industri yang kian pesat.

Related Post
"Era saat ini menuntut lebih dari sekadar selembar ijazah. Kompetensi adalah mata uang baru di dunia kerja. Sertifikasi profesi, misalnya, bukan hanya pelengkap, melainkan nilai tambah krusial yang memungkinkan individu bersaing, berkembang, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan spesifik industri," ujar Afriansyah Noor pada Jumat (24/4/2026).

Beliau menjelaskan, penguatan kapasitas sumber daya manusia ini dapat diakselerasi melalui sinergi strategis dengan berbagai entitas pelatihan dan sertifikasi terkemuka. Ini mencakup balai pelatihan vokasi di bawah naungan Kementerian Ketenagakerjaan, institusi pendidikan tinggi seperti Politeknik Ketenagakerjaan, hingga Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Program-program yang ditawarkan meliputi pelatihan vokasi intensif, uji sertifikasi kompetensi standar, serta peningkatan keterampilan yang disesuaikan secara presisi dengan tuntutan pasar.
Lebih lanjut, Afriansyah Noor juga menyoroti vitalnya penciptaan iklim hubungan industrial yang kondusif dan harmonis dalam setiap lingkungan kerja. Ia secara khusus mengajak para perwakilan serikat pekerja di Sucofindo untuk senantiasa memelihara persatuan dan mengedepankan prinsip musyawarah mufakat dalam menuntaskan setiap potensi perselisihan atau persoalan yang timbul.
"Ketika jalinan komunikasi terjalin baik dan semua pihak menunjukkan dukungan penuh, maka kemajuan perusahaan akan terwujud seiring dengan peningkatan kesejahteraan para pekerja," pungkasnya, menekankan korelasi positif antara kolaborasi internal dan pertumbuhan organisasi.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar