55 NEWS – Presiden terpilih, Prabowo Subianto, baru-baru ini menggelar pertemuan strategis dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka, Jakarta. Agenda utama diskusi tersebut mencakup evaluasi mendalam terhadap dinamika ekonomi terkini, analisis fundamental perekonomian nasional, serta perumusan strategi antisipatif guna menangkis gejolak ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.

Related Post
Dalam kesempatan tersebut, ekonom senior sekaligus anggota DEN, Chatib Basri, secara lugas memaparkan potensi risiko inflasi yang mengintai akibat depresiasi nilai tukar rupiah. Ia menekankan bahwa fenomena ini memerlukan atensi serius dari pemerintah, mengingat implikasi langsungnya yang berpotensi memukul daya beli segmen masyarakat tertentu. "Salah satu isu krusial yang wajib menjadi fokus adalah probabilitas lonjakan harga-harga komoditas dan jasa sebagai imbas dari pelemahan mata uang rupiah," tegas Chatib dalam konferensi pers pasca-pertemuan, sebagaimana dilaporkan 55tv.co.id.

Lebih lanjut, Chatib menggarisbawahi urgensi untuk memelihara dan memperkuat keyakinan publik serta para pelaku usaha di tengah turbulensi ekonomi global. Menurutnya, salah satu instrumen vital untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui implementasi efisiensi anggaran yang ketat dan optimalisasi program-program prioritas pemerintah. "Ini esensial untuk membangun kembali kepercayaan dan keyakinan terhadap pemerintah. Langkah-langkah efisiensi anggaran, termasuk yang berkaitan dengan program MBG, menjadi kunci," imbuhnya, seperti dikutip dari laporan eksklusif 55tv.co.id.
Di sisi lain, anggota DEN lainnya, Firman Hidayat, menawarkan perspektif yang lebih optimistis. Ia menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini terbukti kokoh, bahkan jauh melampaui kondisi saat krisis moneter 1998. Firman merinci, berbagai indikator makroekonomi menunjukkan resiliensi nasional yang terjaga apik, ditopang oleh kesehatan sektor korporasi dan perbankan yang prima. "Selain performa indikator makro seperti laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten tinggi dan stabilitas inflasi, kami secara khusus menyoroti kondisi neraca keuangan korporasi yang berada dalam posisi sangat solid," papar Firman, sebagaimana diulas oleh 55tv.co.id.
Pertemuan ini menggarisbawahi tantangan ganda yang dihadapi pemerintahan Prabowo: menjaga stabilitas harga di tengah tekanan eksternal sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang solid.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar