Terkuak! Akuisisi Kilang Raksasa Shell Sulap Chandra Asri (TPIA) Jadi Mesin Cuan Baru, Laba Operasi Meroket Setengah Miliar Dolar di Q1-2026!

Terkuak! Akuisisi Kilang Raksasa Shell Sulap Chandra Asri (TPIA) Jadi Mesin Cuan Baru, Laba Operasi Meroket Setengah Miliar Dolar di Q1-2026!

55 NEWS – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kini tengah menikmati buah manis dari strategi transformasi bisnis yang ambisius. Langkah akuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP), yang kini dikenal dengan nama Aster, terbukti menjadi momen krusial yang mengubah lanskap operasional dan finansial perseroan secara fundamental. Perubahan ini secara efektif menggeser profil bisnis Chandra Asri dari entitas petrokimia murni yang sangat rentan terhadap fluktuasi siklus industri, menjadi sebuah konglomerasi terintegrasi yang kokoh di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.

COLLABMEDIANET

Analis dari Verdhana Sekuritas, Nizam Syafik, menyoroti bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Chandra Asri telah berhasil menuntaskan metamorfosis besar. Dari semula hanya mengandalkan satu aset petrokimia senilai sekitar USD1,8 miliar yang sempat menghadapi tekanan margin negatif pada periode 2022-2024, kini perseroan telah berevolusi menjadi platform bisnis terintegrasi dengan potensi pendapatan yang fantastis, diperkirakan mencapai USD7 miliar hingga USD10 miliar.

Terkuak! Akuisisi Kilang Raksasa Shell Sulap Chandra Asri (TPIA) Jadi Mesin Cuan Baru, Laba Operasi Meroket Setengah Miliar Dolar di Q1-2026!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menurut Nizam, keberhasilan monumental ini tak lepas dari rampungnya akuisisi Aster, yang menjadi pilar utama diversifikasi usaha. Melalui akuisisi strategis ini, Chandra Asri kini mengoperasikan kilang minyak dengan kapasitas produksi 237 ribu barel per hari, serta fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun. Kedua aset vital ini menjadi fondasi kuat bagi pengembangan segmen energi perseroan.

"Aster secara efektif telah mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini, segmen energi telah menjelma menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi perusahaan," ungkap Nizam dalam risetnya yang dipublikasikan oleh 55tv.co.id pada Rabu (18/6/2026). Data dari Verdhana secara gamblang menunjukkan dominasi segmen energi, yang menyumbang sekitar 55% dari total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026. Angka ini jauh melampaui kontribusi segmen kimia sebesar 42% dan infrastruktur sekitar 3%.

Integrasi Aster yang mulus juga tercermin dari lonjakan kinerja keuangan perseroan yang mencetak rekor. Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah, mencapai USD468 juta, dengan laba bersih menembus angka USD205 juta. Kinerja impresif ini sebagian besar didorong oleh performa cemerlang segmen energi, yang secara signifikan menghasilkan EBIT sebesar USD556 juta.

Verdhana Sekuritas menilai akuisisi Aster sebagai sebuah transaksi yang sangat menguntungkan. Aset strategis tersebut diakuisisi melalui CAPGC, sebuah perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar USD255 juta. Angka ini secara signifikan jauh di bawah nilai buku aset yang tercatat sebesar USD933 juta. Perbedaan nilai akuisisi yang mencolok ini menghasilkan keuntungan akuntansi langsung yang dikenal sebagai bargain purchase gain. Keuntungan ini tidak hanya memperkuat struktur permodalan perusahaan, tetapi juga menciptakan ruang fiskal tambahan yang vital untuk mendanai ekspansi bisnis di masa mendatang.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar