55 NEWS – Jakarta – Kabar melegakan datang dari sektor pertanian nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru-baru ini melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa cadangan pangan nasional berada dalam kondisi prima, diproyeksikan mampu menopang kebutuhan masyarakat hingga sepuluh bulan ke depan. Laporan strategis ini disampaikan Amran usai pertemuan penting di Istana Negara, Kamis (18/6/2026), menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan.

Related Post
"Kami baru saja memenuhi panggilan Bapak Presiden Republik Indonesia," ungkap Amran kepada awak media 55tv.co.id. "Beliau secara spesifik menanyakan progres menyeluruh sektor pertanian, mulai dari ketersediaan pangan pokok, perkembangan hortikultura, dinamika peternakan, hingga prospek perkebunan."

Amran merinci, stok beras nasional yang siap konsumsi saat ini mencapai angka impresif 5,2 juta ton. Angka ini diperkuat dengan potensi produksi dari standing crop atau tanaman yang masih di lahan, yang diperkirakan menyumbang 10-11 juta ton tambahan. Tak hanya itu, cadangan strategis yang tersebar di tingkat rumah tangga, hotel, dan restoran diperkirakan mencapai 12,5 juta ton. Ini menunjukkan diversifikasi sumber pasokan yang kuat.
"Dengan agregat cadangan dari ketiga sumber ini, kami yakin ketersediaan pangan mampu bertahan hingga 10-11 bulan ke depan," tegas Amran. Ia menambahkan, bahkan dengan skenario terendah sekalipun, yakni ketahanan 10 bulan, pasokan pangan nasional tetap aman hingga April 2027. Optimisme ini semakin diperkuat dengan proyeksi panen raya yang akan dimulai pada Maret 2027. Oleh karena itu, Amran menyatakan keyakinannya bahwa dampak El Nino "Godzilla" yang diprediksi BMKG dapat dimitigasi secara efektif melalui strategi antisipatif yang telah disiapkan.
Tak hanya fokus pada komoditas utama, Amran juga menyoroti sektor peternakan. Ia melaporkan adanya diskusi intensif dengan para peternak ayam dan telur untuk mengatasi fluktuasi harga yang cenderung menurun. Solusi strategis yang diinisiasi adalah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) guna meningkatkan serapan telur dan ayam dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Kami segera berkomunikasi dengan Kepala BGN, mengusulkan agar frekuensi konsumsi telur dan ayam dalam program MBG yang semula satu kali seminggu dapat ditingkatkan menjadi tiga kali. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak permintaan dan secara bertahap menstabilkan harga di tingkat peternak," jelas Amran. "Usulan ini telah disepakati bersama, dan kami melihat indikasi positif harga mulai menunjukkan tren kenaikan."
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar