55 NEWS – Jakarta – Dominasi Dolar AS di kancah transaksi bilateral Indonesia-China mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran signifikan. Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan lonjakan fantastis dalam pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT), di mana nilai transaksi menggunakan mata uang lokal Rupiah dan Renminbi (Yuan) telah mencapai Rp231,3 triliun (setara USD13 miliar dengan kurs Rp17.794 per dolar AS) hanya dalam empat bulan pertama tahun 2026, hingga akhir April.

Related Post
Angka ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan cerminan akselerasi yang luar biasa pesat. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyoroti bahwa capaian Rp231,3 triliun dalam sepertiga tahun ini hampir menyamai total transaksi LCT sepanjang tahun sebelumnya yang mencapai USD18 miliar. Ini mengindikasikan bahwa tren diversifikasi mata uang semakin mengakar kuat di antara kedua raksasa ekonomi Asia tersebut.

Dalam konferensi pers RDG BI Bulanan di Jakarta, Kamis (18/6/2026), Perry Warjiyo mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. "Alhamdulillah, Puji Tuhan, bahwa local currency transaction antara Indonesia dengan Tiongkok sangat besar. Tahun lalu secara keseluruhan USD18 miliar, tahun ini 4 bulan saja telah mencapai USD13 miliar," ujarnya. Ia menambahkan, implementasi skema LCT ini membawa keuntungan substansial bagi pelaku usaha di kedua negara, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap dominasi dolar AS.
Diversifikasi transaksi internasional melalui LCT bukan hanya sekadar alternatif, melainkan pilar strategis untuk memperkuat stabilitas moneter domestik. Dengan LCT, transaksi perdagangan dan investasi dapat diselesaikan secara langsung menggunakan Rupiah atau Renminbi, menghilangkan kebutuhan akan dolar AS sebagai mata uang perantara atau vehicle currency. Ini secara efektif memangkas biaya konversi dan risiko fluktuasi nilai tukar yang kerap menyertai penggunaan mata uang pihak ketiga.
Langkah ini, menurut Perry, juga selaras dengan agenda Tiongkok untuk menginternasionalisasi Renminbi. Kemitraan strategis dalam LCT ini tidak hanya menguntungkan kedua negara secara bilateral, tetapi juga berkontribusi pada arsitektur keuangan global yang lebih seimbang, mengurangi konsentrasi risiko pada satu mata uang. BI berkomitmen untuk terus memperkuat strategi ini sebagai benteng kokoh bagi stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar