55tv.co.id – Sebuah kabar mengejutkan datang dari sektor energi nasional. Harga listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan teknologi Battery Energy Storage System (BESS) terancam melambung tinggi. Bukan karena kompleksitas teknologi, melainkan karena satu faktor krusial yang seringkali diabaikan: mahalnya biaya pembebasan lahan. Kondisi ini menempatkan PLTS BESS pada posisi yang kurang kompetitif dibandingkan jenis pembangkit listrik lainnya.

Related Post
Direktur Utama PT PLN Persero Darmawan Prasodjo mengungkapkan, biaya tanah memiliki dampak signifikan terhadap harga jual listrik surya. Ia menjelaskan, jika harga lahan mencapai Rp200 ribu per meter persegi, maka harga listrik berpotensi terkerek sekitar 1 sen per kilowatt-hour (kWh). Angka ini akan semakin membengkak seiring kenaikan harga tanah. "Kami mengakui bahwa penggunaan PLTS dengan sistem BESS ini sangat sensitif terhadap lahan. Jadi kalau harga lahan Rp600 ribu per meter persegi, maka harganya naik sekitar 3 sen per kWh," terang Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis (2/7/2026).

Situasi ini menjadi kendala serius dalam mewujudkan target ambisius pemerintah untuk membangun PLTS berkapasitas 100 Gigawatt (GW). Untuk menjaga keekonomian proyek dan memastikan harga listrik tetap terjangkau, dukungan penyediaan lahan dari pemerintah menjadi sangat vital. Darmawan menambahkan, "Untuk program ini, karena tanah sudah disediakan pemerintah, tentu membuat program PLTS ini menjadi lebih kompetitif secara keekonomian."
Dalam kesempatan yang sama, Darmawan juga memaparkan peta jalan penguatan sistem kelistrikan di wilayah Jawa Madura Bali (Jamali). PLN menargetkan peningkatan daya mampu pasok dari 35,9 GW saat ini menjadi 55 GW pada tahun 2030. Langkah awal akan dimulai pada tahun 2026 dengan penambahan kapasitas sebesar 5 GW. Fokus utama pada fase ini adalah pemenuhan kebutuhan batu bara kalori menengah (4.500–5.200 kcal/kg) sebanyak 15 juta metrik ton. Upaya ini bertujuan untuk menjamin stabilitas pasokan energi primer sebagai fondasi utama sebelum transisi menuju integrasi energi terbarukan yang lebih masif pada tahun-tahun berikutnya.










Tinggalkan komentar