Target Ekonomi 6 Persen Prabowo Terlalu Optimistis

Target Ekonomi 6 Persen Prabowo Terlalu Optimistis

55tv.co.id – Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RAPBN 2027 yang diajukan Presiden Prabowo Subianto memuat asumsi makroekonomi yang dinilai sejumlah kalangan terlalu berani. Lembaga riset Center of Economic and Law Studies Celios menyoroti target pertumbuhan ekonomi 6 persen serta inflasi 25 persen plus minus 1 persen sebagai angka yang kurang realistis. Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda menegaskan bahwa ambisi tersebut menghadapi tantangan berat dari gejolak global dan kondisi domestik yang masih rentan.

COLLABMEDIANET

Huda menjelaskan bahwa panggung ekonomi dunia kini diselimuti ketidakpastian tinggi. Konflik bersenjata yang meluas di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional. Berbagai institusi keuangan global seperti Bank Dunia OECD dan IMF pun serempak memproyeksikan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Angka proyeksi mereka berkisar antara 28 persen hingga 34 persen jauh di bawah harapan Indonesia. Melemahnya performa ekonomi negara-negara adidaya seperti Tiongkok dan Amerika Serikat turut memperkeruh suasana.

Target Ekonomi 6 Persen Prabowo Terlalu Optimistis
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Target pertumbuhan ekonomi 6 persen saya anggap terlalu optimistis di tengah kondisi ekonomi global dan nasional saat ini" ujar Huda dalam keterangannya Minggu 16 Agustus 2026. Ia menambahkan bahwa bank sentral di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang sudah mulai menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan. Langkah ini tentu akan berdampak pada aliran modal dan biaya pinjaman global yang pada akhirnya memengaruhi perekonomian negara berkembang.

Menengok ke dalam negeri Huda memprediksi daya dorong ekonomi nasional tahun depan hanya akan mencapai puncaknya di angka 47 persen. Proyeksi yang lebih konservatif ini didasari oleh beberapa faktor krusial. Gelombang pemutusan hubungan kerja PHK massal yang terjadi sepanjang tahun ini telah menekan daya beli masyarakat. Selain itu inflasi biaya produksi juga turut membebani konsumsi rumah tangga. Hilangnya stimulus dari sektor konstruksi seiring berakhirnya program Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih KDKMP juga menjadi salah satu penyebab utama perlambatan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar