55tv.co.id – Pasar ponsel pintar di Asia Tenggara sedang menghadapi gejolak yang mengejutkan. Laporan terbaru mengungkapkan adanya pergeseran signifikan dalam preferensi konsumen dan strategi produsen, menciptakan kontras mencolok antara nasib perangkat murah dan premium. Jika ponsel di segmen bawah terpuruk, gawai mewah justru meroket tajam.

Related Post
Analisis dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa pasar smartphone di kawasan ini mengalami kontraksi sebesar 15 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026. Angka ini menandai kemerosotan terparah sejak awal tahun 2023, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri.

Segmen harga terjangkau menjadi korban utama dari fenomena ini. Perangkat dengan banderol di bawah 150 dolar AS atau setara sekitar 2,6 juta rupiah, terjun bebas hingga 38 persen. Konsumen tampaknya mulai menjauhi opsi paling ekonomis, meninggalkan segmen ini babak belur.
Namun, di sisi lain spektrum harga, cerita sukses justru tercipta. Ponsel pintar kelas menengah premium, dengan harga antara 500 hingga 699 dolar AS, mencatat lonjakan penjualan yang fantastis, mencapai 74 persen. Tak kalah gemilang, perangkat super premium di atas 700 dolar AS juga menguat signifikan sebesar 18 persen. Ini menunjukkan bahwa daya beli untuk produk-produk mewah tetap kuat, bahkan cenderung meningkat.
Penyebab utama di balik pergeseran drastis ini adalah melonjaknya biaya komponen produksi, khususnya memori. Kenaikan harga bahan baku memaksa para produsen untuk menyesuaikan harga jual dan memangkas produksi untuk model-model murah. Akibatnya, pasar dibanjiri dengan lebih sedikit pilihan ponsel terjangkau, sementara minat terhadap perangkat premium dengan fitur canggih terus tumbuh pesat. Fenomena ini mengubah peta persaingan di industri smartphone Asia Tenggara secara fundamental.










Tinggalkan komentar