55tv.co.id – Kondisi kesehatan finansial masyarakat Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang cukup kontradiktif. Di satu sisi, pemahaman masyarakat mengenai keuangan secara umum menunjukkan tren positif, namun di sisi lain, pemahaman spesifik mengenai instrumen perlindungan seperti asuransi justru mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan.

Related Post
Berdasarkan data terbaru dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis oleh kolaborasi OJK, LPS, dan BPS, indeks literasi asuransi di tanah air tercatat turun menjadi 42,84 persen pada Agustus 2026. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 45,45 persen.

Kesenjangan ini semakin terlihat nyata ketika membandingkan angka literasi dengan angka inklusi. Saat ini, tingkat inklusi asuransi baru berada di angka 29,55 persen. Hal ini menciptakan celah atau gap yang cukup lebar, yakni lebih dari 13 poin persentase. Fenomena ini menjadi ironis karena di saat yang bersamaan, literasi keuangan nasional secara umum justru melonjak hingga 69,57 persen, sebuah angka yang bahkan telah melampaui target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Direktur Utama PT Askrindo (Persero), R Mahelan Prabantarikso, memberikan perhatian serius terhadap tren penurunan ini. Dalam keterangannya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan, ia menekankan bahwa penurunan pemahaman asuransi adalah sinyal merah yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, kondisi ini sangat berisiko bagi masa depan ekonomi nasional, terutama bagi generasi muda yang diprediksi akan menjadi tulang punggung ekonomi dalam satu dekade mendatang.
Mahelan menyoroti sebuah fenomena unik yang ia sebut sebagai ‘Gen Z Paradox’. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana generasi muda saat ini merupakan kelompok yang paling mahir secara digital dan terkoneksi secara luas, namun justru menjadi kelompok yang paling rentan terhadap risiko keuangan yang tidak terkelola dengan baik.
Data pendukung memperkuat kekhawatiran tersebut. Tercatat sebanyak 64,9 persen pengguna layanan pinjaman online berada pada rentang usia 19 hingga 34 tahun. Mirisnya, sekitar 58 persen dari pengguna di kelompok usia produktif tersebut menggunakan pinjaman tersebut bukan untuk kegiatan produktif, melainkan hanya untuk memenuhi tuntutan gaya hidup semata.
"Mereka sangat mahir secara digital (digital literate), tetapi belum matang secara finansial (financially literate)," tegas Mahelan.
Menurutnya, kemudahan akses digital bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan peluang besar, namun di sisi lain membawa risiko baru yang sangat nyata. Mulai dari perilaku konsumsi yang impulsif, maraknya penipuan digital, hingga pengambilan keputusan finansial yang gegabah tanpa adanya pendampingan atau perlindungan yang memadai. Tanpa adanya literasi asuransi yang kuat, generasi muda akan kesulitan menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.










Tinggalkan komentar