Bandara Soetta Tutup Total Akibat Abu Vulkanik

Bandara Soetta Tutup Total Akibat Abu Vulkanik

55tv.co.id – Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru saja mencatatkan sebuah peristiwa yang sangat langka sekaligus mengejutkan dalam sejarah penerbangan Indonesia. Untuk pertama kalinya, gerbang udara terbesar di tanah air ini harus menghentikan seluruh aktivitas operasionalnya secara total. Keputusan drastis ini diambil menyusul ancaman serius dari sebaran abu vulkanik yang dipicu oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

COLLABMEDIANET

Fenomena ini menjadi catatan sejarah baru bagi manajemen bandara dan industri penerbangan nasional. Penutupan menyeluruh ini bukan sekadar gangguan jadwal penerbangan biasa, melainkan sebuah kondisi darurat yang memaksa seluruh akses udara di Soekarno-Hatta lumpuh seketika demi keselamatan nyawa manusia.

Bandara Soetta Tutup Total Akibat Abu Vulkanik
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), Agus Haryadi, mengungkapkan keterkejutannya atas situasi ini. Berdasarkan pengalaman panjangnya yang telah berkecimpung di dunia operasional bandara selama puluhan tahun, peristiwa penutupan total seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992. Artinya, sudah sekitar 35 tahun saya berkarier di sini, dan belum pernah mengalami penutupan bandara secara total," ujar Agus dalam sebuah pertemuan bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, sebagaimana dikutip pada Jumat (2/10/2026).

Agus memberikan perbandingan yang cukup kontras untuk menggambarkan betapa ekstremnya situasi kali ini. Ia menyinggung masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama hampir tiga tahun. Meskipun saat itu mobilitas masyarakat dibatasi secara ketat dan jumlah penumpang menurun drastis, status Bandara Soekarno-Hatta tetap dinyatakan terbuka atau open.

Pada masa pandemi, protokol kesehatan dan pembatasan perjalanan diterapkan agar bandara tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai penyedia layanan transportasi udara bagi masyarakat yang sangat membutuhkan. Namun, kondisi akibat abu vulkanik Anak Krakatau kali ini jauh lebih kompleks dan berbahaya. Abu vulkanik memiliki sifat abrasif yang dapat merusak mesin pesawat, sehingga risiko keselamatan menjadi alasan utama mengapa bandara tidak bisa beroperasi sama sekali.

"Covid pun tidak tutup. Status bandara itu tetap terbuka. Namun, kalau kondisi ini, bandara benar-benar harus ditutup (close)," tegas Agus menjelaskan perbedaan mendasar antara pembatasan pandemi dengan ancaman bencana alam vulkanik.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor transportasi udara mengenai betapa besarnya pengaruh aktivitas alam terhadap stabilitas konektivitas nasional. Hingga saat ini, pengawasan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif oleh pihak berwenang guna menentukan kapan aktivitas penerbangan dapat kembali normal. Para calon penumpang pun diimbau untuk selalu memantau perkembangan terbaru sebelum menuju ke bandara.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar